بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Segala puji bagi Allah Tuhan seru
sekalian alam dengan puji-pujian yang melengkapi segala nikmat-Nya dan
menarik kelebihan pemberian-Nya. Sholawat yang sempurna dan
kesejahteraan yang sempurna atas penghulu kita Nabi SAW dan atas
seluruh keluarga dan sahabatnya.
Sesungguhnya Allah telah mengkaruniakan nikmat yang sangat besar, yaitu
nikmat Islam dan Iman karena dengan keduanya maka dimasukkan Allah
Jalla wa Azza ke dalam syurga kekal selama-lamanya serta selamat dari
siksa neraka dengan mengerjakan ketaatan kepada Allah Ta’ala. Oleh
karena itu maka wajib atas tiap-tiap mukallaf yaitu orang yang akil
baligh bahwa ia mengetahui sekalian rukun Islam seperti tersebut di
bawah ini. Demikian juga dengan rukun Iman supaya ia dapat bersyukur
pada Allah Ta’ala dengan mengamalkan amal-amal keduanya yang terhenti
makbulnya dengan pengetahuan.
A. Rukun Islam
Rukun Islam ada lima perkara, yaitu :
1. Mengucap dua kalimat syahadat
2. Sembahyang lima waktu.
3. Puasa Ramadhan.
4. Membayar zakat.
5. Pergi haji.
Disebutkan pada hadits dari Nabi SAW :
اَلإِسْلاَمُ
أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَاِلهَ اِلاَّاللّهُ وَأَنَّ محَمَّدًا رَّسُوْلُ
اللّهِ , وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ , وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ , وَتَصُوْمَ
رَمَضَانَ ,وَتحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبيْلاً.
Artinya
: “Islam adalah engkau bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah dan
sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah, menegakkan sholat, menunaikan
zakat, berpuasa di bulan Ramadhan dan engkau haji ke Baitullah jika
engkau telah mampu melaksanakannya”.
Adapun ilmu pengetahuan tentang rukun Islam yang pertama yaitu
mengetahui makna dua kalimat syahadat disebut ilmu Ushuluddin atau ilmu
Tauhid seperti kitab ini. Ilmu Ushuluddin artinya ilmu tentang
pokok-pokok agama (diin). Arti agama menurut istilah ada dua yaitu :
مَا شَرَعَهُ اللَّهُ عَلَى لِسَانِ نَبيه مِنَ الاَحْكَامِ
Artinya : “Hukum yang disyariatkan (diperintahkan) Allah melalui lisan Nabi Allah”.
Atau :
وَضْعٌ
اِلهِىٌّ يَدْعُوْلِذَوِى العُقُوْلِى السَّالِمَةِ اِلى قَبُوْلِ مَا
هُوَعِنْدَ الرَّسُوْلِ لِسَعَادَتِهِم في مَعَاشِهِم وَمَعَادِهِمْ
Artinya
: “Peraturan dari Tuhan untuk mengajak setiap yang berakal sehat untuk
menerima apa-apa yang dibawa Rasul untuk mencapai kebahagiaan ketika di
dunia dan di akhirat.
Sedangkan arti ilmu Tauhid menurut istilah syara’ adalah :
عِلْمٌ يَقْتَدِرُ بهِ عَلَى اِثْبَاتِ الْعَقَائِدِ الدِّيْنِيَّةِ مُكْتَسَبٌ مِنْ اَدِلَّتِهَا الْيَقِيْنِيَّةِ
Artinya : “Ilmu untuk menetapkan akidah (keyakinan) keagamaan seseorang berdasarkan atas dalil-dalilnya didasari keyakinan”
Dimaksud dengan dalil adalah dalil naqli (diambil/dinukil dari Al-Qur’an dan Hadits) dan dalil aqli (berdasarkan akal).
Wajib hukumnya atas tiap-tiap mukallaf bahwa ia mengenal Tuhannya Azza
wa Jalla dengan seluruh sifat-sifat Allah yang wajib, mustahil dan jaiz
(harus). Demikian juga yang wajib atas diri sekalian Rasul alaihimush
sholatu wassalam, yang mustahil dan yang harus seperti akan dijelaskan
nantinya. Semua itu masuk dalam makna dua kalimat syahadat.
Ilmu pengetahuan tentang rukun Islam yang selainnya disebut dengan ilmu
fikih. Wajib atas tiap-tiap mukallaf bahwa ia mengetahui ilmu yang
wajib atasnya seperti sembahyang, puasa dan lainnya. Demikian juga
dengan amalan-amalan sunat atau amalan yang hendak dikerjakannya karena
tidak sah beramal dengan jahil pada hukumnya sebagaimana hal itu
disebutkan dalam kitab Zubad :
فَكُلُّ مَنْ بِغَيْرِ عِلْمٍ يَعْمَلْ ، أَعْمَالُهُ مَرْدُودَةٌ لاَتُقْبَلُ
Artinya : “Tiap-tiap orang yang beramal dengan tanpa ilmu maka amalnya dikembalikan padanya (tidak dikabulkan)”
Adapun dalil wajibnya ilmu yang tersebut itu hadits Nabi SAW :
طَلَبُ العِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
Artinya : “Menuntut ilmu wajib atas tiap-tiap muslim”.
Sedangkan makrifat Allah Jalla wa Azza lebih dahulu dari ilmu yang lain sebagaimana disebut dalam kitab Zubad :
وَّلُ وَاجِبٍ عَلَى الاِْنْسَانِ مَعْرِفَةُ الهِئ بِاسْتِيْقَانِ
Artinya : “Yang permulaan wajib atas manusia yaitu makrifatullah dengan yakin”.
Demikian juga dari kitab Khutbatu lil habibi Thohir bin Husain :
فَاعْلَمُوْا
ايُّهَا الاِْخْوَانُ اَنَّ الأَصْلَ وَاْلأَسَاسَ هُوَ مَعْرِفَةُ
الْمَعْبُوْدِ قَبْلَ الْعِبَادَةِ وَذلِكَ حَقِيْقَةُ مَعْنَى
الشَّهَادَةِ
Artinya : “Ketahuilah olehmu bahwa asal
agama yaitu mengetahui Tuhan yang disembah sebelum melakukan ibadah
pada Allah dan pengetahuan itu adalah hakikat makna kalimat syahadat”.
Apabila telah diketahui wajibnya makrifatullah Allah atas tiap-tiap
mukallaf maka ketahui olehmu arti makrifat yaitu I’tiqad yang jazam,
mufakat (sesuai) dengan yang haq (benar) dan dengan mempunyai dalil.
Arti jazam adalah mantap tanpa ada keraguan lagi. Keluar dari perkataan
jazam itu zhon (dugaan kuat), waham (ragu) dan syak (dugaan lemah).
I’tiqad jazam dapat dibedakan atas empat bagian yaitu :
1. Jazam mufakat dengan yang haq dan dengan mempunyai dalil. Hal ini yang disebut makrifat.
2. Jazam mufakat dengan yang haq dan tanpa mempunyai dalil. Hal ini yang disebut taklid shohih.
3. Jazam tidak mufakat dengan yang haq dan dengan mempunyai dalil. Hal ini disebut jahil murokkab.
4. Jazam tidak mufakat dengan yang haq dan tanpa mempunyai dalil. Hal ini disebut taklid batil.
Adapun arti dalil adalah perkara yang menunjukkan kebenaran sesuatu
perkara. Dalil dalam masalah tauhid dapat secara ijmali (garis besar)
atau secara tahshili (terperinci). Dalil wujudnya Allah dengan sekalian
sifat Allah dengan dalil ijmali yaitu adanya langit dan bumi dan
apa-apa yang ada diantara keduanya. Inilah yang wajib untuk setiap
orang Islam menuntutnya supaya lepas ia dari dosa. Adapun mengetahui
dalil tafshili maka hukumnya fardhu kifayah untuk setiap daerah dalam
batasan ukuran perjalanan yang dibolehkan untuk menjama' dan mengqoshor
sembahyang. Mengetahui dalil tafshili diperlukan untuk menolakkan
syubhat-syubhat yang didatangkan oleh ahli bid'ah dan orang-orang yang
akan merusak keyakinan umat Islam.
Hikayat :
Kata Syeikh Ashmu'i, "Aku keluar pada satu hari dari mesjid jami' di
Negeri Bashroh. Ketika aku sedang berjalan maka di tengah perjalanan
aku bertemu dengan seorang A'robi yang menaiki unta sedang diba-hunya
tergantung pedangnya dan pada tangannya anak panah. Ia memberi salam
kepadaku dan bertanya, ”Siapa engkau ?" Jawabku, "Aku dari Bani
Ashma`". Katanya lagi, "Darimana kamu datang ?" Jawabku, "Dari tempat
dibacakannya Kalamurrohman". Katanya, "Adakah bagi Rohman itu kalam
yang dibaca orang akannya ?" Jawabku, "Benar !" Katanya, "Bacakanlah
atasku sesuatu darinya !" Jawabku, "Beradab engkau, hentikan untamu,
turun engkau dari atas unta itu dan duduk !" Maka dihentikannya untanya
lalu iapun turun dan duduk, maka kubacakan surat Adz-Dzarriyat hingga
sampai pada firman-Nya :
وَفي اْلأَرْضِ آيَاتٌ لِلْمُوْقِنِينَ وَفي أَنْفُسِكُمْ أَفَلاَ تُبْصِرُوْنَ
Artinya
: "Dan di bumi itu beberapa tanda Allah yang menunjukkan ke-Esaan-Nya
yang memberi keyakinan pada orang yang mentauhidkan Allah dan pada diri
kamu sendiri apakah kamu tidak melihat ?"
Kata A'robi itu, "Telah benar Rohman pada firman-Nya. Tahi unta
menunjukkan ada unta, bekas telapak kaki menunjukkan ada orang yang
berjalan, dilangit ada buruj tempat jalan bulan, bintang dan matahari.
Bumi mempunyai jalan, laut mempunyai ombak. Bukankah semua itu
menunjukkan adanya Tuhan yang Lathif (Maha Lemah lembut) dan Khobir
(Mengetahui)". Ketika kubaca :
وَفي السَّمَآءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوْعَدُوْنَ
Artinya : " Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezkimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu".
Katanya, "Hai Ashmu'i ! Aku bertanya kepadamu dengan nama Allah, ini
juga kalam Rohman ?" Kataku, "Benar !" Katanya, "Berhentilah engkau !"
Kemudian ia berdiri dan menuju untanya, lalu unta itu disembelihnya dan
dagingnya dibagikannya pada orang yang lewat. Kemudian ia mematahkan
pedang dan anak panahnya dan dikuburkannya. Dia berkata, "Wahai
celakalah aku ! Rezekiku ada di langit dan aku mencarinya di bumi. Ini
jelas bukan perkara yang benar". Lalu iapun pergi ke hutan. Ketika aku
sampai ke kota Baghdad maka kuceritakanlah hal itu pada Harun al-Rasyid
dan iapun heran. Pada tahun berikutnya ia membawaku untuk besertanya
pergi ke Mekkah untuk naik haji. Saat aku sedang Thawaf maka menarik
tepi kainku seorang laki-laki muda, kulihat maka ternyata ia adalah
sahabat A'robi itu. Katanya, "Wahai Ashmu'i ! Bacakanlah olehmu untukku
Kalam Rohman !" Maka akupun membacakannya baginya pula Surat
adz-Dzariyat. Tatkala bacaanku sampai pada firman Allah ta'ala :
وَفي السَّمَآءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوْعَدُوْنَ
iapun berkata, "Benarlah Rohman ! Kami dapatkan apa yang dijanjikan-Nya kepada kami". Tatkala sampai bacaanku pada ayat :
فَوَرَبِّ السَّمَآءِ وَاْلأَرْضِ اِنَّهُ لَحَقٌّ مِثْلَ مَا أَنَّكُمْ تَنْطِقُوْنَ
Artinya
: " Maka demi Tuhan langit dan bumi, sesungguhnya yang dijanjikan itu
adalah benar-benar (akan terjadi) seperti perkataan yang kamu ucapkan".
Katanya, "Demi Tuhan tujuh lapis langit dan bumi ! Bahwasanya benar
seperti yang engkau kata". Katanya lagi, "Siapa yang telah dimurkai
oleh Allah al-Jalil hingga Ia bersumpah karena mereka tidak percaya
kepada-Nya lalu Dia bersumpah. Demi Allah ! Tidaklah kami menghendaki
sesuatu kecuali kami dapati ia hadir". Kemudian iapun terisak-isak dan
jatuh pingsan. Ketika kami gerak-gerakkan untuk memeriksanya maka kami
dapati ia telah mati. Lalu Amirul mukminin Harun al-Rasyid
menyelenggarakan jenazahnya mulai dari memandi-kan, menyembahyangkan,
mengkafani hingga menguburkannya.
Dikisahkan :
Ada seorang Dahri (Atheis) pada masa Hamad guru dari Imam Abu Hanifah
yang menantang seluruh ulama untuk berhujjah (berdebat) dengannya. Ia
berkata, "Kamu mengatakan bahwa Allah itu ada lalu kalau ada bagaimana
mungkin bahwa Dia tidak ada tempat-Nya. Sedangkan setiap yang wujud
maka pasti memiliki tempat". Setelah mengalahkan dia akan hujjah
kebanyakan ulama, ia berkata, "Apakah masih ada pada kalian ulama ?"
Jawab orang banyak, "Ada ! Dia adalah Hamad". Dahri itu berkata, "Wahai
Khalifah ! Hadirkan ia ke hadapanku agar dapat aku berkata-kata
dengannya". Oleh Khalifah Hamad dipanggil dia berkata, "Baiklah tetapi
aku meminta tangguh malam ini". Pagi harinya datanglah Abu Hanifah yang
ketika itu masih kecil. Dilihatnya gurunya dalam keadaan sangat
berduka, maka tanyanya, "Apa yang menyebabkan engkau begini ?"
Jawabnya, "Bagaimana aku tidak berduka, telah memanggil khalifah akan
daku untuk berhujjah dengan Dahri dan telah dikumpulkannya banyak
ulama. Tadi malam aku bermimpi dan kulihat hal yang sangat menakutkan".
Tanya Abu Hanifah, "Apa mimpimu itu ?" Jawabnya, "Kulihat suatu kampung
yang sangat luas dan indah. Ada didalamnya sebuah pohon kayu yang
berbuah. Tiba-tiba dari sudut kampung muncul seekor babi yang memakan
buah kayu itu serta daun dan ranting-rantingnya sampai tinggal
batangnya. Kemudian muncul dari pohon kayu itu seekor harimau yang
kemudian babi itu ditangkapnya dan dibunuhnya". Berkata Abu Hanifah,
"Bahwasanya Allah ta'ala mengajarkan kepadaku ta'bir mimpi.
Sesungguhnya mimpi ini baik bagi kita dan buruk bagi musuh kita. Jika
engkau izinkan padaku untuk menta'birkannya maka akan kuta'birkan".
Kata Hamad, "Ta'birkan ya Nu'man !" Katanya, "Adapun kampung yang luas
dan indah itu adalah agama Islam dan pohon kayu yang berbuah itu adalah
ulama dan ushul yang tinggal itu adalah engkau, babi itu Dahri dan
harimau yang membunuh babi itu adalah aku. Berjalanlah engkau memenuhi
undangan Khalifah dan aku bersamamu, maka berkat dari himmah dan
hadhirat engkau, aku yang akan menjawab soal Dahri dan berhujjah
dengannya". Mendengar itu maka senanglah hati Hamad dan keduanya ketika
itu juga berdiri ke tempat perhimpunan orang-orang dan disana ada
Khalifah dan masyarakat yang ingin menyaksikan majlis Hamad sedangkan
Abu Hanifah berdiri di hadapan gurunya di bawah tempat duduknya sambil
memegang kain gurunya. Datanglah Dahri dan segera naik ke mimbar lalu
bertanya, "Siapa yang akan menjawab pertanyaanku ?" Sahut Abu Hanifah,
"Apa yang akan kau katakan, tanyakan saja maka siapa yang tahu dialah
yang akan menjawabnya". Kata Dahri, "Siapa engkau, hai anak kecil !
Engkau berkata-kata denganku sedangkan banyak orang yang lebih tua
darimu dengan kain kebesarannya dan lengan baju yang lebar telah lemah
mereka melawan hujjahku. Bagaimana pula engkau berkata-kata denganku
seorang anak kecil dan hina pula dirimu ?" Berkata Abu Hanifah, "Allah
tidak meletakkan kemuliaan itu pada orang yang memiliki serban yang
besar, pakaian yang megah serta lengan baju yang lebar, tetapi Dia
meletakkan kemuliaan itu pada ulama seperti firman-Nya :
وَالَّذِيْنَ أُوْتُو الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
Artinya : "Mereka yang diberi Allah ilmu mempunyai beberapa derajat".
Kata Dahri, "Engkau yang akan menjawab soalku ?" Jawab Abu Hanifah,
"Benar ! Aku akan menjawab soalmu dengan taufik dari Allah". Kata
Dahri, "Apakah Allah itu maujud (ada) ?" Jawabnya, "Benar !" Kata
Dahri, "Dimana Dia ?" Jawabnya, "Tidak ada tempat bagi-Nya". Katanya,
"Bagaimana ada maujud tapi tiada bertempat baginya ?" Jawabnya, "Pada
dirimu itu ada buktinya". Tanyanya, "Mana buktinya ?" Jawabnya,
"Tidakkah ada pada dirimu nyawa ?" Katanya, "Benar !" Kata Abu Hanifah,
"Dimana tempat ruhmu itu, dikepala kamukah, diperut kamukah atau dikaki
kamukah ?" Tercenganglah Dahri itu, lalu Abu Hanifah meminta
didatangkan padanya susu. Katanya, "Tidakkah pada susu ini ada
minyaknya ?" Kata Dahri, "Benar !" Kata Abu Hanifah, "Dimanakah
tempatnya, diatasnyakah atau dibawahnyakah ?" Maka Dahri itupun
tercengang pula, lalu Abu Hanifah berkata, "Seperti tiada pada ruh itu
tempat tertentu di tubuh dan tidak pula minyak pada susu, demikianlah
tidak pula bagi Allah didalam yang ada ini tempat-Nya". Kata Dahri,
"Apa yang mendahului Allah dan apa pula yang sesudahnya ?" Kata Abu
Hanifah, "Tidak ada sesuatu yang mendahului-Nya dan tidak pula ada
sesuatu yang sesudah-Nya". Kata Dahri, "Bagaimana dapat tergambar ada
yang maujud tanpa di dahului sesuatu dan tidak ada yang kemudiannya".
Kata abu Hanifah, "Pada perkara itu ada buktinya pada dirimu". Kata
Dahri, "Apa pula itu ?" Kata Abu Hanifah, "Apa yang sebelum ibu jarimu
dan apa yang kemudian dari jari kelingkingmu. Demikian pula Allah tidak
ada yang sebelum-Nya dan tidak ada yang kemudian dari-Nya". Kata Dahri,
"Masih ada satu pertanyaan lagi pada diriku". Kata Abu Hanifah,
"Tanyakan olehmu, insya Allah aku jawab". Katanya, "Apa yang sedang
dilakukan Allah sekarang ini ?" Kata Abu Hanifah, "Engkau itu orang
yang berbuat terbalik. Seharusnya orang yang menjawab itu diatas mimbar
dan orang yang bertanya itu di bawah mimbar. Bila engkau turun dan aku
naik maka akan kujawab pertanyaanmu itu". Maka turun ia dan naiklah Abu
Hanifah ke mimbar. Ketika ia sudah duduk di mimbar bertanyalah Dahri
dan Abu Hanifah menjawab pertanyaannya dengan mengatakan, "Perbuatan
Allah saat ini adalah Dia menjatuhkan yang batil seperti dirimu dari
atas ke bawah dan menaikkan Dia yang benar seperti naiknya aku dari
bawah ke atas". Pergilah Dahri itu pada akhirnya dengan putus sekalian
hujjahnya.
Firman Allah Ta'ala :
اِنَّ في خَلْقِ السَّموَاتِ وَالاَرْضِ وَاخْتِلاَفِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لايَاتٍ لأُولى الاَلْبَابِ
Artinya
: “Di dalam kejadian langit dan bumi serta pergantian malam dengan
siang, sesungguhnya sekaliannya itu menjadi petunjuk atas adanya Allah
yang menjadikan sekalian yang demikian itu untuk orang yang mempunyai
akal pikiran”.
Dinukil dari ibarat Suhaimi dengan artinya : “Adapun makrifatullah dan
makrifaturrasul terhenti atas pengetahuan tentang tiga perkara yang
tersimpan di dalam hukum akli yaitu wajib, mustahil dan jaiz “. Oleh
karena itu wajib diketahui tiga perkara ini didahulukan atas sebutan 20
sifat dan ditambahkan pula keterangan tentang hukum syar’i dan hukum
‘adi supaya dapat dibedakan satu dengan yang lain.
B. HUKUM
Pengertian hukum adalah :
اِثْبَاتُ اَمْرٍ اِلى اخَرَ اِيْجَابًا اَوْسَلَبًا
Artinya : “Menetapkan suatu perkara kepada perkara yang lain ada ataupun tidak ada”.
Contoh dari hukum ini adalah menetapkan apakah sembahyang itu wajib
atau tidak, makanan itu halal atau haram, urusan itu benar atau salah
dan lain sebagainya.
Hukum yang wajib diketahui oleh mukallaf supaya dapat memahami ilmu
tauhid dengan benar dapat dibedakan atas tiga bagian, yaitu hukum aqli,
hukum syar’i dan hukum ‘adi.
1. Hukum Aqli (Hukum Akal)
Hukum akal yang sempurna merupakan cahaya yang diletakkan di hati orang
mukmin yang dengan cahaya itu dapat diketahui ilmu dhoruri (yang tidak
membutuhkan banyak berpikir) seperti dikatakan sebuah benda selalu
berada dalam salah satu keadaan antara bergerak dan diam, dan ilmu
nazhori (yang membutuhkan pemikiran lebih dalam) seperti harus bagi
Allah memasukkan orang yang berbuat taat kedalam neraka.
Arti hukum akal adalah menetapkan suatu perkara atas suatu perkara atau
menafikannya yang mana penetapan itu tidak disebabkan karena
berulang-ulang atau karena ada yang menetapkannya tetapi disandarkan
penerimaan akal atau pemikiran manusia.
Hukum akal terdiri atas tiga perkara, yaitu :
a. Wajib artinya perkara yang tidak diterima akal kalau tidak ada
(mesti ada) atau tidak diterima akal kalau tidak seperti itu. Misalnya
setiap benda wajib dalam salah satu keadaan bergerak atau diam.
b. Mustahil artinya perkara yang tidak diterima akal kalau ada
(mesti tidak ada) atau tidak diterima akal kalau seperti itu. Misalnya
dikatakan ada benda yang tidak bergerak dan tidak diam.
c. Jaiz (harus) artinya perkara yang dapat diterima akal baik ada
atau tidak ada. Misalnya saya sekarang sedang menulis atau sedang
membaca.
2. Hukum Syar’i (Hukum Syara’)
Hukum Syara’ adalah ketetapan Allah atas perbuatan mukallaf.
Karena penetapan pembebanan perintah ini untuk mukallaf maka dikatakan
juga khitob taklif. Karena dalam penetapan perintah ini ditentukan
syarat, sebab dan mani’ maka disebut juga khitob wadh’i.
Hukum syar’i ditetapkan oleh Allah dan terbagi atas dua makna ini dan tujuh perkara, yaitu :
a. Wajib artinya setiap perkara yang diperintahkan Allah
mengerjakannya yang mendapat pahala jika dikerjakan dan mendapat dosa
jika ditinggalkan, misalnya sembahyang lima waktu, puasa Ramadhan dan
lainnya.
b. Sunat artinya setiap perkara yang baik dikerjakan dimana bila
dikerjakan akan mendapatkan pahala tetapi tidak mendapat dosa jika
ditinggalkan, misalnya mengucapkan salam, memakai wangi-wangian,
senantiasa dalam keadaan wudhu dan lainnya.
c. Haram artinya setiap perkara yang dilarang Allah mengerjakannya
dimana bila dikerjakan akan mendapat dosa dan mendapatkan pahala jika
ditinggalkan, misalnya berzina, mencuri, durhaka pada kedua orangtua,
mengumpat dan lainnya.
d. Makruh artinya perkara yang baik ditinggalkan dimana jika
dikerjakan tidak mendapat dosa akan tetapi mendapat pahala jika
ditinggalkan, seperti bernyanyi sambil buang air, merokok, memakan
makanan yang berbau dan lainnya.
e. Mubah atau harus atau boleh artinya perkara boleh dikerjakan dan
boleh pula ditinggalkan tanpa mendapat pahala ataupun mendapat dosa,
misalnya makan, minum, berjalan-jalan, olahraga dan lainnya.
f. Shohih (sah) artinya perkara yang lengkap seluruh syarat dan
rukunnya, misalnya sembahyangnya sah karena syarat dan rukunnya telah
ditunaikan secara sempurna.
g. Batal artinya perkara yang kurang syarat atau rukunnya, misalnya sembahyangnya batal karena datangnya sebab-sebab hadats.
3. Hukum ’Adi (Adat)
Hukum adat adalah menetapkan keterkaitan suatu perkara atas suatu
perkara lainnya atau menafikannya karena disebabkan kejadiannya
berulang-ulang (sudah biasa) seperti itu dengan sah berbeda dan tidak
ada hubungan salah satu dengan yang lainnya.
Hukum ini didasarkan atas kejadian yang sering terjadi seolah-olah
salah satu menjadi sebab untuk yang lainnya sehingga karena sudah
menjadi kebiasaan maka ditetapkan sebagai hukum misalnya api membakar,
makanan mengenyangkan, pisau memotong, anak lahir dengan adanya
orangtua atau lainnya. Sebahagian orang ada yang mengistilahkannya
dengan sunatullah. Akan tetapi ketetapan ini bisa saja berubah atau
disalahi atau diselisihi yaitu adanya peristiwa atau kejadian yang
tidak mengikuti ketentuan yang sudah biasa itu. Perkara yang menyalahi
adat itu ada yang terpuji misalnya mukjizat, karamah, irhas dan
ma'unah. Ada pula yang tercela seperti sihir dan istidraj.
Hukum adat terbagi atas empat perkara, yaitu :
a. Keterkaitan adanya suatu perkara dengan adanya suatu perkara seperti adanya kenyang dengan adanya makan.
b. Keterkaitan tidak adanya suatu perkara dengan tidak adanya suatu
perkara seperti tidak adanya kenyang dengan tidak adanya makan.
c. Keterkaitan adanya suatu perkara dengan tidak adanya sutu perkara seperti adanya dingin dengan tidak adanya baju.
d. Keterkaitan tidak adanya suatu perkara dengan adanya suatu perkara seperti tidak hangus dengan adanya air yang menyiram.
Dari uraian diatas maka dapat dibedakan antara wajib syara’ dengan
wajib akal bahwa arti keduanya berbeda. Bila dikatakan wajib atas
tiap-tiap mukallaf maka maksudnya adalah wajib syara’ dan bila
dikatakan wajib bagi Allah atau bagi rasul Allah maksudnya wajib akal.
Demikian juga bila dikatakan jaiz bagi Allah Ta'ala atau harus bagi
Allah maka maksudnya adalah jaiz akal dan bila dikatakan jaiz bagi
mukallaf maksudnya adalah jaiz syara’.
Diceritakan bahwa pada suatu hari Imam Syafi’i sedang melakukan
perjalanan dengan mengendarai unta. Ditengah perjalanan beliau
berpapasan dengan seorang anak muda. Anak muda itu lalu berkata,
“Assalaamu ’alaikum ya Syeikh !” Imam Syafi’i menjawab, “Wa ’alaikum
salam ya fattah !” Anak muda itu bertanya, “Wahai Syeikh, berapa kaki
untamu ?” Imam Syafi’i lalu turun dari untanya, melihat ke bawah dan
menghitung kaki untanya lalu menjawab, “Empat”. Demikianlah kaki unta
ada empat adalah ’adat yang dapat saja berubah bila Allah menghendaki.
C. SIFAT-SIFAT ALLAH
Adapun perkara yang wajib yaitu sifat-sifat yang wajib bagi Allah Jalla
wa Azza dengan tafshil (terperinci ) adalah 20 sifat yang telah ada
dalil akli dan dalil naqli padanya. Tersebut tiap-tiap satu sifat arti
dan dalilnya kemudian apa yang seharusnya dilakukan seorang mukmin yang
mengi’tiqadkan bahwa Tuhan bersifat seperti itu. Yaitu merupakan sikap
seorang mukmin yang sempurna imannya.
Adapun sebab maka wajib mengenal sifat-sifat ini karena dzat hanya
dapat dikenali dengan adanya sifat yang berdiri atau melekat padanya
jadi dengan mengenal sifat-sifat ini diharapkan seorang mukmin akan
dapat mengenal Dzat Tuhan kita Azza wa Jalla. Seperti juga yang baharu
ini dikenal juga dengan adanya sifat yang melekat padanya, misalnya
seseorang dikenali dengan sifatnya seperti kulitnya hitam, ramah,
tingginya 170 cm atau lainnya. Semakin banyak sifat yang kita ketahui
maka akan semakin kita mengenalnya. Tanpa adanya sifat maka dzat tidak
akan bisa dikenali. Apabila ada yang bertanya mengapa dibatasi sifat
Allah Ta'ala yang wajib dipelajari hanya 20 sifat sedangkan Nabi
Muhammad SAW sebagai utusan Allah tidak pernah menyebutkan hal itu maka
katakan bahwa peringkasan atas 20 sifat saja merupakan ijtihad dari
para ulama dengan memahamkan apa yang ada dalam Al-Qur'an dan Hadits
Nabi SAW kemudian tidak dibatasi sifat Allah hanya 20 akan tetapi
mengenal yang 20 ini dengan sekalian dalil naqli dan aqli mencukupi
untuk mengenali Dzat Tuhan kita dengan pengenalan yang paling ringkas
tetapi sempurna sedangkan sifat yang lain dikenali secara ringkas
seperti akan disebutkan nantinya.
Seperti itu pula ijtihad ulama dalam menyatakan bahwa rukun sembahyang
ada 13 perkara walaupun Nabi SAW tidak pernah menyebutkan seperti itu,
tetapi dipahamkan dari perbuatan dan penjelasan Nabi lalu
disimpulkanlah dalam ijtihad ulama tentang hal itu. Perkara ini sedikit
penulis uraikan karena pada masa ini banyak orang yang kurang akalnya
dan kurang takutnya pada Allah lalu ia mulai menggugat ijtihad para
ulama-ulama Islam yang dahulu-dahulu seolah-olah mereka menjelaskan
hukum hanya berdasarkan hawa nafsu bukan berdasarkan pemahaman
Al-Qur'an dan Hadits Nabi SAW. Akibatnya banyak orang awam terkena
fitnah mereka dan mulai meninggalkan ijtihad para ulama dan memahamkan
sendiri Al-Qur'an dan Hadits menurut hawa nafsunya. Ketahuilah para
ulama-ulama pendahulu kita lebih memahami dan lebih takut pada Allah
Ta'ala. Wallahu muwafiq.
Diceritakan bahwa Imam Ahmad bin Hambal rhm. bila pulang kerumahnya
selalu menceritakan pada anak-anaknya tentang bagaimana beliau
mengagumi kecerdasan dan ke’aliman gurunya Imam Syafi’i, diantara
anaknya ada seorang anak perempuannya yang begitu penasaran dengan
setiap penuturan ayahnya tentang pujiannya pada gurunya itu dan ia
sangat ingin melihat sendiri bagaimana hal dari Imam Syafi’i itu. Pada
suatu hari Imam Ahmad mengajak Imam Syafi’i untuk menginap di rumahnya
selama satu malam. Oleh anak perempuan Imam Ahmad hal ini merupakan
kesempatan untuk memperhatikan secara langsung tentang Imam Syafi’i
yang diceritakan oleh ayahnya itu sehingga setiap apa yang dikerjakan
oleh Imam Syafi’i di rumahnya pada malam itu tidak luput dari
perhatiannya. Demikianlah Imam Syafi’i malam itu menginap di rumah Imam
Ahmad dan keesokan harinya beliau pulang. Setelah Imam Syafi’i pulang,
anak Imam Ahmad ini bercerita kepada ayahnya, “Wahai ayah, engkau
selalu bercerita tentang kekaguman engkau akan gurumu tetapi tadi malam
aku memperhatikan ada tiga hal yang menurut ananda tidak cocok untuk
seorang ’alim”. Mendengar itu Imam Ahmad terkejut dan bertanya, “Apa
itu hai anakku ?” Jawab anaknya, “Pertama aku melihat saat makan malam
beliau makan cukup banyak yang tidak layak kiranya untuk orang ‘alim;
kedua, setelah masuk kamar aku memperhatikan bahwa beliau tidak keluar
pada malam hari untuk sembahyang tahajud padahal itu adalah kebiasaan
untuk orang ‘alim; dan ketiga, saat sembahyang shubuh aku tidak
melihatnya berwudhu, tetapi langsung menjadi Imam Shubuh”. Mendengar
perkataan anaknya Imam Ahmad menjadi sedih dan ingin segera bertemu
dengan gurunya dan menanyakan hal itu secara langsung agar bisa
menjelaskan hal itu pada anaknya. Pergilah Imam Ahmad menemui gurunya
dan menanyakan hal itu. Mendengar perkataan Imam Ahmad, Imam Syafi’I
tersenyum dan berkata, “Wahai Ahmad, benar perkataan anakmu itu. Adapun
aku malam itu makan dirumahmu cukup banyak yang tidak selayaknya untuk
orang ‘alim adalah karena untuk menyenangkan engkau karena aku tahu
engkau sangat senang kalau hidanganmu kumakan dan aku yakin bahwa apa
yang engkau berikan adalah dari jalan yang halal sedangkan makanan yang
halal akan menjadi obat dari penyakit dan dapat membukakan hati.
Setelah aku ke kamar untuk tidur kudapati mataku tidak mau terpejam dan
tidak merasa mengantuk dan terbuka hatiku sehingga pada malam itu
terbuka bagiku tujuh puluh masalah fikih yang mana hal itu
menyibukkanku sepanjang malam tanpa tidur sama sekali sehingga aku
tidak keluar untuk sembahyang tahajud karena sembahyang tahajud
syaratnya adalah tidur sehabis Isya. Adapun Shubuh itu aku tidak
berwudhu karena sepanjang malam itu wudhu’ku tetap terjaga akibat tidak
kedatangan hadats dan tidak tidur. Demikianlah Ahmad, katakanlah pada
anakmu itu”. Mendengar hal itu senanglah hati Imam Ahmad dan iapun
segera pulang untuk menceritakan hal itu pada anaknya.
Selain sifat yang 20 maka sifat-sifat Allah Jalla wa Azza tidak
dibatasi banyaknya maka wajib atas tiap-tiap mukallaf mengetahuinya
secara ijmali saja di dalam perkataan مُتَّصِفٌ بكُلِّ كَمَالٍ
(bersifat Allah dengan sifat-sifat yang sempurna). Dengan kalimat ini
nyata bahwa sifat Allah tidak hanya 20 sifat karena setiap namaAllah
yang ada pada Asmaul Husna menunjukkan pula sifat dari Dzat Tuhan kita
Azza wa Jalla. Sifat yang mustahil pada Tuhan Jalla wa Azza dengan
tafshil adalah 20 sifat lawan dari 20 sifat yang wajib. Sifat yang
mustahil pada Allah Jalla wa Azza dengan ijmali yaitu di dalam
perkataan :
مُنَزَّهٌ عَنْ كُلِّ نَقْصٍ وَمَا خَطَرَ بالبَالِ
Artinya : "Maha suci Tuhan dari sifat-sifat kekurangan dan Maha suci dari perkara yang terlintas di dalam hati".
Adapun 20 sifat yang wajib bagi Allah adalah :
1. Wujud (وُجُوْدُ ) artinya ada mustahil tiada.
Dalilnya firman Allah Ta'ala :
اَللّهُُ الَّذِى خَلَقَ السَّموَاتِ والاَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا
Artinya : “Allah yang menjadikan langit, bumi dan yang ada diantara keduanya”. (As-Sajdah 32:4)
Dalil aqlinya :
وُجُوْدُ هذِهِ الْمَخْلُوْقَاتِ
Artinya : “Adanya sekalian makhluk”
Makhluk (yang dijadikan) ini disebut juga dengan alam yang berasal dari
alamat artinya tanda yaitu tanda adanya Allah. Seorang mukmin yang
beri’tiqad bahwa Allah bersifat wujud hendaklah selalu mengingat Allah
Ta'ala pada setiap yang wujud di alam karena Allah yang menjadikan
sekaliannya. Hal ini dapat diibaratkan dengan seseorang yang memberi
kita sesuatu hadiah, maka tiap-tiap kita melihat hadiah itu maka kita
akan selalu ingat pula pada orang yang telah memberi hadiah itu. Oleh
karena itu dengan melihat setiap sesuatu di alam maka seorang mukmin
yang yakin adanya Allah tentu akan ingat pula pada Allah yang
menjadikannya.
Diceritakan saat Uni Soviet dahulu ingin memasukkan paham atheisnya
pada anak-anak Islam hal ini dilakukan melalui guru-guru yang mengajar
disekolah. Diantara guru itu berkata pada muridnya, "Anak-anak ! Apakah
kalian melihat papan tulis ?" Murid menjawab, "Melihat !" Kata guru,
"Berarti papan tulis itu ada karena dapat dilihat. Apakah kalian
melihat saya ?" Jawab murid, "Melihat !" Kata guru, "Berarti saya ada
karena dapat dilihat". Katanya lagi, "Apakah kalian melihat Tuhan ?"
Jawab murid, "Tidak !" Kata guru, "Berarti Tuhan tidak ada karena tidak
dapat dilihat". Lalu ada seorang muridnya yang cerdas berkata, "Wahai
kawan-kawan! Apakah kalian melihat akal pak guru ?" Jawab yang lain,
"Tidak !" Lalu kata murid tadi, "Berarti guru kita tidak punya akal
karena akalnya tidak dapat dilihat". Wallahu muwaffiq.
2. Qidam ( قِدَمٌ ) artinya sedia mustahil baharu.
Maksudnya wujud Allah Ta'ala atau ada Allah itu tanpa didahului atau
diawali dengan tiada atau memang dari awalnya sudah ada mustahil baharu
yaitu ada Allah didahului oleh tiada atau mengalami tidak ada sebelum
ada Allah.
Dalilnya Firman Allah Ta'ala :
هُوَالاَوَّلُ وَالاخِرُ
Artinya : “Allah Ta'ala yang Awal dan Dia juga yang Akhir”. (Al-Hadiid 57:3)
Dalil aqlinya yaitu :
اَنَّهُ لَوْكَانَ حَادِثً لاحْتَاجَ الى مُحْدِثٍ وَهُوَ مُحَالٌ
Artinya : “Apabila Allah baharu maka berarti Ia akan butuh yang membaharukan-Nya maka hal itu mus-tahil”
Apabila pencipta butuh pada yang menciptakannya maka akan ada dua
kemungkinan, yaitu pencipta I dijadikan pencipta II, pencipta II
dijadikan pula oleh pencipta III demikian terus (disebut tasalsul),
maka hal itu mustahil karena tidak akan ada habisnya ataupun pencipta I
dijadikan pencipta II dan pencipta II pula dijadikan pencipta I
(disebut daur) maka akan berkumpul dua sifat yang berlawanan yaitu
qidam dan baharu pada setiap Tuhan maka hal itu mustahil pula.
Seorang mukmin yang beri’tiqad bahwa Allah bersifat qidam hendaklah
banyak bersyukur pada Allah Ta'ala yang menjadikannya mukmin dan muslim
dengan taufik-Nya karena Iman dan Islam yang ada di hati kita itu
sifatnya baharu seperti diri kita. Allah SWT banyak menjadikan
makhluk-Nya yang bernama manusia, tetapi seperti yang kita lihat hanya
sebagian kecil diantaranya yang beriman dan beragama Islam, maka kita
harus mensyukuri hal itu karena untuk menetapkan nikmat itu tidak ada
jalan selain mensyukurinya.
Dikisahkan bahwa saat seorang ulama menceritakan tentang orang terakhir
masuk kesyurga dan apa yang didapatkannya serta namanya adalah maka
banyak yang mendengar cerita itu tertawa karena merasa bahwa kisah itu
menggelikan akan tetapi Syeikh Hasan Bashri menangis tersedu-sedu. Lalu
teman-teman-nya bertanya kepadanya, “Mengapa engkau menangis padahal
yang lain tertawa ?” Jawabnya, “Alangkah beruntungnya orang itu
seandainya akulah dirinya !” Tanya mereka, “Mengapa begitu bukankah ia
masuk syurga paling akhir ?” Jawabnya, “Karena ia masih masuk ke syurga
sedangkan diriku aku tidak tahu apakah akan bisa masuk kesyurga”.
3. Baqo’ ( بَقَاءُ ) artinya kekal mustahil fana (binasa).
Allah bersifat kekal artinya adanya Allah tidak akan diakhiri dengan
mati ataupun lenyap (hilang), tidak mengalami perubahan seperti muda,
lalu tua karena Allah yang dahulu, sekarang ataupun nanti tetap tidak
berubah.
Firman Allah Ta'ala :
وَيَبْقَى وَجْهُ رَبّكَ ذُوالجَلاَلِ وَالإِ كْرَامِ
Artinya : “Kekal dzat Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan”. (Ar-Rahman 55:27)
Dalil aqlinya, yaitu :
اَنَّهُ لَوْكَانَ فَانِيًالَكَانَ حَادِثًا وَهُوَمُحََالٌ
Artinya : “Kalau Allah fana maka berarti Dia baharu, maka hal itu mustahil”.
Jika Allah dapat fana, maka keberadaan Allah saat ini adalah harus
bukan wajib, maka tentu Dia butuh pada Dzat yang dapat menetapkan
keberadaan Allah maka hal itu mustahil.
Seorang mukmin yang beri’tiqad bahwa Allah bersifat baqo’ sementara
dirinya bersifat fana hendaklah menyadari bahwa suatu saat ia akan mati
sehingga banyak beristighfar dan bertaubat pada Allah karena kematian
itu dapat datang pada dirinya tanpa diketahui waktunya. Firman Allah
ta’ala :
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَآءَ أَجَلُهُمْ لاَيَسْتَأْخِرُوْنَ سَاعَةً وَلاَيَسْتَقْدِمُوْنَ
Artinya
: “Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu, maka apabila telah datang
waktunya mereka tidak dapat mengun-durkannya barang sesaatpun dan tidak
dapat (pula) memajukannya”.
Hingga bila waktu itu tiba maka kita mati dalam keadaan tidak membawa dosa.
Dikisahkan dua orang Bani Israil yang bersaudara dimana salah seorang
dari mereka ahli ibadah yang sudah 40 tahun berkhalwat untuk
mendekatkan dirinya kepada Allah. Adapun saudaranya selama 40 tahun
menghabiskan waktunya dalam berbuat maksiat menurutkan hawa nafsu. Pada
suatu hari ahli maksiat itu terbangun dari tidurnya dan didapatinya
dirinya berada di dalam parit dan celana bau kencing dimana tanpa
disadarinya dirinya tadi malam dalam keadaan mabuk maka semua itu
terjadi. Dalam dirinya timbul rasa malu dan ia berpikir bagaimana
keadaannya nanti bila dia mati dalam keadaan itu tentu amat sangat
memalukan dan masuk keneraka tidak seperti saudaranya yang ahli ibadah
yang akan menjadi ahli surga. Akhirnya dia menyesal dan bertaubat
kepada Allah dan iapun naik ketempat saudara berkhalwat diatas bukit
untuk ikut bersamanya beribadah. Adapun saudaranya yang ahli ibadah
maka bertemu dengan setan dan berkata setan itu, “Alangkah bodohnya,
engkau lelah beribadah selama 40 tahun dan masih tinggal lagi umurmu 40
tahun kenapa tidak engkau ikut akan saudaramu”. Mendengar perkataan
setan itu berkata ahli ibadah itu dalam hatinya, “Masih tinggal umurku
40 tahun kalaulah aku ikut saudaraku selama 20 tahun dan nanti disisa
umurku yang 20 tahun dapat aku kembali bertaubat dan beribadah kepada
Allah”. Turunlah ia dari atas bukit sementara saudaranya naik
ketempatnya. Saat sedang turun ia tergelincir dan jatuh menimpa
saudaranya, lalu keduanya mati maka masuklah ahli maksiat tadi kesurga
karena diterima Allah taubatnya sedang ahli ibadah tadi dimasukkan
keneraka karena niatnya untuk bermaksiat kepada Allah. Wallahu muwafiq.
Dikisahkan ada seorang pemuda datang kepada Ibrahim bin Adham rhm. Ia
berkata, ”Ya Aba Ishaq ! Aku adalah seorang yang suka bertaubat tetapi
tidak sanggup menahan diriku untuk kembali kepada dosa. Berilah aku
pengajaran semoga dapat menjadi jalan untukku menjaga diriku !” Kata
Ibrahim, “Kalau engkau tetap ingin terus berbuat maksiat maka kerjakan
saja olehmu tetapi engkau harus memenuhi syaratnya”. Kata pemuda itu
dengan heran, “Wahai syeikh, bagaimana bisa begitu dan apa syarat yang
harus kupenuhi ?” Kata Ibrahim, “Adapun syaratnya itu ada lima. Pertama
kalau engkau ingin bermaksiat pada Allah, maka jangan engkau makan dari
rezeki-Nya”. Kata pemuda itu, “Ya Syeikh, bagaimana dapat aku makan
tidak dari rezeki-Nya sedangkan setiap yang ada diatas bumi dan dibawah
langit makan dari rezeki-Nya”. Kata Ibrahim, “Seburuk-buruk hamba itu
engkau. Engkau makan rezeki-Nya tapi bermaksiat kepada-Nya”. Kata
pemuda itu, “Wahai Syeikh, apa syarat ke-dua ?” Kata Ibrahim, “Yang
ke-dua, kalau engkau bermaksiat maka bermaksiatlah tapi jangan diatas
bumi-Nya dan dibawah langit-Nya”. Kata pemuda itu, “Wahai Syeikh,
bagaimana dapat kulakukan hal itu, sedangkan selain diatas bumi-Nya dan
dibawah langit-Nya tidak ada tempat untuk didatangi”. Kata Ibrahim,
“Seburuk-buruk hamba itu engkau, engkau bermaksiat dengan memakan
rezeki-Nya dan ditempat milik-Nya”. Tanya pemuda itu, “Apa syarat
ke-tiga, ya Syeikh ?” Jawab Ibrahim, “Kalau engkau bermaksiat, carilah
tempat dimana Ia tidak dapat melihatnya !” Kata pemuda itu lagi, “Wahai
Syeikh, bagaimana dapat kulakukan hal itu, sedangkan Dia Maha Melihat.
Tidak ada suatu kejadian diatas bumi dan dibawah langit ini kecuali Dia
melihatnya”. Kata Ibrahim, “Seburuk-buruk hamba itu engkau. Engkau
makan rezeki-Nya, tinggal ditempat-Nya dan durhaka di hadapan-Nya”.
Pemuda itu bertanya lagi sambil menangis, “Wahai Syeikh, apa pula
syarat ke-empat ?” Kata Ibrahim, “Nanti saat Malaikat maut datang
padamu untuk mencabut nyawa, katakan padanya, “Wahai Malaikat maut,
tunggulah sebentar agar aku bertaubat dahulu dari segala maksiatku lalu
engkau cabut nyawaku !” Kata pemuda itu, “Wahai Syeikh, bagaimana hal
itu dapat kulakukan sedangkan ajal itu bila telah sampai maka tidak
dapat dimajukan dan dimundurkan walaupun sesaat. Wahai Syeikh apa
syarat ke-lima”. Kata Ibrahim, “Syarat kelima adalah engkau sudah
mengetahui dimana tempatmu nanti di syurga ataukah di neraka. Kalau
engkau sudah tercatat sebagai penghuni syurga maka bermaksiatlah
sesukamu karena tidak akan memberi bekas maksiatmu akan ketentuan
Allah. Jika tempatmu nanti di neraka, maka bermaksiatlah sesukamu,
karena ketaatanmu tidak akan mampu mengeluarkan engkau dari neraka”.
Kata pemuda itu, “Wahai Syeikh, bagaimana dapat kuketahui hal itu
sedangkan itu adalah hal yang ghaib bagiku. Wahai Syeikh, cukuplah
sudah pengajaranmu ini, sungguh akan kuingat selalu dalam hidupku
sebagai pengajaran yang sangat berharga, berharap aku taufik Allah
atasku hingga dapat kuatasi nafsuku”.
4. Mukholafatuhu lil
hawadits ( مُخَالَفَةُ لِلْحَوَادِثِ ) artinya berbeda dengan yang
baharu mustahil sama atau seumpama dengan yang baharu.
Firman Allah Ta'ala :
لَيْسَ كَمِثْلِه شَيْءٌ وَهُوَالسَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Artinya : “Dia tidak seumpama dengan sesuatu dan Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat”. (Asy-Syuuro 42:11)
Dalil aqlinya yaitu :
اَنَّهُ لَوْكَانَ مُمَاثَلاًلِلْحَوَادِثِ لَكَانَ حَادِثًا وَهُوَمُحَالٌ
Artinya : “Apabila Dia sama seperti yang baharu berarti Dia baharu, maka hal itu mustahil”.
Allah adalah Dzat yang Qodim seperti telah disebutkan sebelumnya, bila
Dia sama seperti yang baharu maka Dia akan bersifat dengan sifat yang
baharu berarti ternafi sifat Qodim, maka perkara itu mustahil karena
dua yang berlawanan tidak akan mungkin (mustahil) berkumpul pada Dzat
yang satu. Oleh karena itu Dzat Allah berbeda dengan dzat yang baharu,
sifat-sifat yang ada pada Allah juga berbeda dengan sifat-sifat yang
ada pada yang baharu seperti Ada-Nya, Hidup-Nya, Mendengar-Nya,
Melihat-Nya, Perbuatan-Nya, Perkataan-Nya dan semua sifat yang lain
berbeda dengan yang baharu walaupun nantinya ada kesamaan nama dengan
yang baharu.
Kesimpulannya dengan dikatakan Allah berbeda dengan yang baharu :
a. Mustahil Allah Ta'ala benda atau berjirim (berjasad) seperti
batu, kayu atau lainnya. Arti berjirim adalah Dzat Allah mengambil
ruang (memiliki volume).
b. Mustahil Allah Ta'ala a’radh (sifat) yang melekat pada jirim.
A’radh artinya tiap-tiap sifat yang baharu seperti warna, rasa, gerak
atau diam, berkumpul atau berpisah dan lainnya. Setiap yang dapat di
indera dengan indera yang lima adalah a'rodh. A’radh merupakan bagian
dari alam karena alam terdiri atas jirim dan a’rodh sedangkan alam ini
baharu.
c. Mustahil Allah Ta'ala bertempat jirim seperti diatas, dibawah,
dikanan, dikiri, didepan ataupun dibelakang seperti diatas Arasy,
dibawahnya, dikanannya dan lainnya.
d. Mustahil Allah Ta'ala memiliki arah karena arah merupakan sifat
anggota yang baharu, seperti atas sifat anggota kepala, bawah sifat
anggota kaki atau lainnya, maka tidak ada pada sisi Allah naik atau
turun ke langit, berjalan atau berlari. Adapun apa yang ada pada hadits
maka perlu dipahami dengan menyerahkan hakikat maknanya pada Allah
Ta'ala atau mentakwilkan dengan apa yang pantas untuk Allah.
e. Mustahil Allah Ta'ala dibatasi oleh tempat atau waktu seperti
pada Arasy atau lainnya atau berlaku pada Allah siang dan malam karena
tempat dan waktu adalah makhluk yang dijadikan Allah.
f. Mustahil sifat-sifat Allah sama seperti sifat yang ada pada yang
baharu seperti bersifat dengan Kudrat seperti Kudrat yang baharu,
bersifat dengan Iradat yang sama dengan Iradat yang baharu dan lainnya.
Kalaupun ada kesamaan nama hal itu tidak mengapa tetapi pada hakikatnya
tidaklah sama.
g. Mustahil Allah Ta'ala bersifat dengan besar atau kecil adapun
yang dimaksud pada Qur’an seperti اَللَّهُ الْكَبيْرُالْمُتَعَالُ
(artinya : “Allah Ta'ala yang Maha Besar serta Maha Tinggi”) maksud
dari besar adalah pada ketuhanan dan derajat sebagaimana seorang yang
mempunyai kedudukan dan kemuliaan dapat dikatakan juga sebagai orang
besar walau secara fisik tubuhnya mungkin kecil dibanding orang lain.
h. Mustahil Allah Ta'ala berkeinginan untuk mengambil manfaat/faedah
dalam perbuatan dan hukum Allah, karena hal itu menunjukkan kelemahan
dan kekurangan seperti menyuruh beribadah karena berkeinginan supaya
sempurna atau melarang sesuatu karena takut ada yang mudharat akan
terjadi pada Allah. Semua itu mustahil karena Allah Maha Kaya atas
sekalian makhluk.
i. Mustahil Allah dekat atau jauh dengan jirim. Adapun apa yang dikatakan pada firman Allah Ta'ala :
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ
Artinya
: “Sesungguhnya Kamilah yang menjadikan manusia dan Kami mengetahui
sekalian yang dibisikkannya dalam hatinya dan Kami dekat padanya lebih
dekat urat dari lehernya”. (Qoof 50:16)
Maksudnya Sama', Bashor dan Ilmu Allah meliputi dirimu dan kejadianmu
itu menurut ketentuan Allah ta'ala tanpa ada selisih sedikitpun dari
ketentuan-Nya jadi Allah Ta'ala itu lebih mengetahui tentang dirimu
lebih dari pengetahuanmu tentang dirimu sendiri dan Allah Ta'ala
mengawasimu dimanapun engkau berada jadi jauhkanlah dirimu dari maksiat.
j. Mustahil Allah Ta'ala seperti apa yang dipikirkan seseorang atau
yang terlintas didalam hati karena yang didalam hati itu semula tidak
ada, lalu ada dan kemudian tidak ada lagi yang mana merupakan sifat
yang baharu berarti yang dihati itupun baharu.
Bila ditanyakan kalau seperti itu maka bagaimana cara kita beriman
kepada Allah? Jawabnya : “I’tikadkan dan renungkan dalam hati bahwa
Dzat Allah itu ada dengan sifat-sifat Allah seperti apa yang
diterangkan dalam ilmu ‘Aqoid bahwa semua itu tidak sama dengan sesuatu
disertai banyak berzikir (Laa ilaaha illallaah) dan berdoa pada Allah
memohon dimudahkan memahami dan dijauhkan dari was-was syetan. Insya
Allah nanti akan timbul perasaan dan keyakinan yang teguh dalam diri
kita bahwa Allah ada lengkap dengan sifat-sifat Allah yang wajib bagi
Allah. Itulah iman yang sebenarnya (hakikat iman). Untuk mengenal
ataupun mengetahui Dzat Allah bukan dengan panca indra kita tetapi
dengan hati atau akal kita yang ditunjuki oleh Allah.
Seorang mukmin yang beri’tiqad bahwa Allah bersifat mukholafatuhu lil
hawadits hendaklah banyak bertasbih memaha-sucikan Allah dari yang
selain Allah, bila timbul khatir (suara hati) yang membisik-bisikkan
tentang Allah apa yang tidak sesuai dengan sifat ini maka mahasucikan
Dia dari hal itu karena bisikan-bisikan itu dari setan yang ingin
menjerumuskan manusia dalam kesesatan.
Firman Allah ta’ala :
إِنمَّـَا يَأْمُرُكُمْ بِالسُّوْءِ وَالْفَحْشَآءِ وَأَنْ تَقُوْلُوْا عَلَى اللهِ مَالاَتَعْلَمُوْنَ
Artinya
: “Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji,
dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui”.
5. Qiyamuhu ta'ala binafsihi
( قِيَامُهُ تَعَالى بنَفْسِهِ ) artinya berdiri Allah Ta'ala dengan
sendirinya, mustahil tidak berdiri dengan sendirinya.
Maksudnya Allah Ta'ala tidak membutuhkan tempat bersandar/berdiri
seperti sifat karena Allah Ta'ala bukan sifat dan tidak membutuhkan
pada yang membuat atau menjadikan Allah karena Allah Ta'ala Qodiim.
Firman Allah Ta'ala :
اِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ
Artinya : “Allah Ta'ala yang kaya dari sekalian alam”.
Demikian juga firman Allah :
اَللَّهُ لااِلهَ اِلاَّهُوَالْحَيُّ الْقَيُّوْمُ لاَتَأْخُذُه سِنَةٌ وَّلاَ نَوْمٌ
Artinya
: “Allah, tidak ada Tuhan melainkan Dia yang Hidup, yang Berdiri
Sendiri, tidak menimpa Allah mengantuk dan tidak pula tidur”.
(Al-Baqarah 2:255)
Dalil aqlinya yaitu :
اَنَّه
لَوِحْتَاجَ اِلى مَحَلٍّ لَكَانَ صِفَةً وَكَوْنُه صِفَةً مُحَالٌ
وَلَوِاحْتَاجَ اِلى مُخَصِّصٍ لَكَانَ حَادِثًا وَكَوْنُه حَادِثًا
مُحَالٌ
Artinya : “Apabila Allah Ta'ala membutuhkan tempat
berdiri maka berarti Dia adalah sifat (bukan Dzat) dan Dia merupakan
sifat mustahil dan bila Dia membutuhkan pada yang menjadikan maka
berarti Dia baharu maka hal itupun mustahil”.
Dikatakan tidak membutuhkan tempat berdiri karena Allah bukan sifat
karena yang membutuhkan tempat berdiri adalah sifat, seperti hitam yang
terdapat pada peci, manis yang ada pada gula, asin pada air laut.
Setiap sifat melekat pada dzat, karena sifat itu merupakan ciri dari
dzat yang mana dzat dikenal dan diketahui adanya adalah dengan adanya
sifat itu sedang dzat tidak membutuhkan tempat berdiri. Allah Ta'ala
adalah Dzat maka Allah tidak membutuhkan tempat berdiri. Demikian pula
bila Allah Ta'ala membutuhkan pada yang menjadikan maka Allah Ta'ala
akan sama seperti kita yang baharu, maka seperti yang terdahulu hal itu
mustahil.
Seorang mukmin yang beri’tiqad bahwa Allah bersifat qiyamuhu Allah
binafsihi hendaklah selalu menyampaikan hajat atau keinginannya dan
kebutuhannya hanya pada Allah Ta'ala saja karena Dia yang Kaya pada
hakikatnya jadi kalau kita meminta maka mintalah kepada Allah,
sedangkan makhluk itu semuanya hakikatnya adalah faqir atau masih
membutuhkan maka bila kita minta kebutuhan kita pada yang faqir
bagaimana hajat dan keinginan kita dapat terpenuhi dengan sempurna.
Kalaupun kita meminta sesuatu pada seseorang, maka mohonlah terlebih
dahulu kepada Allah Ta'ala karena jalan Allah Ta'ala memberi itu
terkadang dengan sebab orang lain itu dan terkadang dengan sebab yang
tidak kita sangka ataupun tanpa melalui suatu sebab atau perantara.
Firman Allah ta’ala :
إِنَّ الله لَذُو فَضْلٍ عَلَى النَّاسِ وَلـكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَيَشْكُرُوْنَ
Artinya : “Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur”.
6. Wahdaniat ( وَحْدَانِيَةِ
) artinya Esa yaitu esa dzat, sifat dan perbuatan Allah mustahil Allah
Ta'ala berbilang pada dzat, sifat atau perbuatan Allah.
Maksud Allah Ta'ala Esa pada Dzat Allah adalah :
اَنَّهُ لَيْسَتْ مُرَكَّبَهً مِنْ اَجْزَآءٍ مُتَعَدِّدَةٍ
Artinya : “Bahwasanya Dzat Allah itu tidak ganda dan tidak tersusun atas bagian-bagian”.
Maksud Allah Ta'ala Esa pada Sifat Allah adalah :
اَنَّه
لَيْسَ لَه صِفَتَانِ فَاَكْثَرُمِنْ جِنْسٍ وَاحِدٍ كَقُدْرَتَيْنِ
وَهكَذَاوَلَيْسَ لِغَيْرِه صِفَةٌ تُشَابهُ صِفَتَه تَعَالى
Artinya
: “Sifat Allah tidak ganda yang sejenis seperti memiliki dua Kudrat dan
tidak ada yang selain Allah yang memiliki sifat yang sama seperti sifat
Allah Ta'ala”.
Maksud Allah Ta'ala Esa pada perbuatan Allah adalah :
اَنَّه لَيْسَ لِغَيْرِه فِعْلٌ مِنَ الاَفْعَالِ
Artinya : “Tidak ada selain Allah yang berbuat seperti perbuatan Allah.
Firman Allah Ta'ala :
قُلْ هُوَاللَّهُ اَحَدٌ
Artinya : “Katakanlah ya Muhammad ! Allah itu Esa”.
Dalil aqlinya yaitu :
اَنَّه لَوْكَانَ مُتَعَدِّدًالَمْ يُوْجَدْشَيْءٌ مِنْ هذِهِ الْمَخْلُوْقَاتِ
Artinya : “Bahwasanya apabila Dia berbilang maka tidak akan wujud sesuatu dari sekalian makhluk ini”.
Hal ini disebabkan bahwa bila ada beberapa orang ingin membuat satu
benda yang sama maka tidak akan terjadi benda itu, bila salah satu
dapat didahului oleh yang lain maka menunjukkan lemah dan membuat
sesuatu yang sudah dibuat yang lain menunjukkan melakukan perbuatan
yang sia-sia berarti jahil. Bila ada yang mengatakan bahwa sepakat
keduanya bila ingin membuat perkara yang satu, maka menunjukkan
terpaksa dalam berbuat karena harus mufakat dengan apa yang diinginkan
taulannya maka hal itu menunjukkan lemah, karena kehendaknya tergantung
pada kehendak taulannya. Kalau salah satu memiliki kehendak yang
berbeda maka tidak akan wujud alam semesta. Wujudnya alam semesta
dengan segala keteraturannya menunjukkan adanya kehendak yang satu
dalam penciptaan yang berasal dari Dzat yang satu pula yaitu Allah
Ta'ala.
Seorang mukmin yang beri’tiqad bahwa Allah bersifat wahdaniat hendaklah
selalu merasa melihat Allah di dalam tiap-tiap kejadian yang dilihatnya
karena setiap yang terjadi semuanya berasal dari Allah seperti apa yang
difirmankan Allah dalan Al-Qur’an :
قُلْ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ اللّهِ
Artinya : “Katakanlah (ya Muhammad) : Tiap-tiap sesuatu (berasal) dari sisi Allah”. (An-Nisa' 4:78)
Dan juga firman Allah :
وَاللّهُ خَلَقَ كُمْ وَمَا تَعْمَلُوْنَ
Artinya : “Allah-lah yang menjadikanmu dan apa-apa yang kamu perbuat”. (Ash-Shoffaat 37:96)
Jadi setiap perbuatan kitapun pada hakikatnya adalah perbuatan Allah.
Adapun yang dibebankan kepada kita berupa syara’, maka semua itu
disandarkan pada niat. Bila kita ingin bergerak maka kita digerakkan,
bila ingin memegang maka tangan kita digerakkan untuk memegang
demikianlah maka pahala dan dosa disandarkan pada hati yang ruhani
sebagaimana pahala dan dosa juga bersifat ruhani. Adapun perbuatan kita
merupakan tanda lahiriah dari yang ada didalam hati. Sering terjadi
sesuatu pada diri kita yang tidak kehendaki seperti sakit, jatuh, tua,
lupa dan lainnya.
Kemudian lawan dari Wahdaniat adalah ta’addud (berbilang) seperti apa yang telah disebut Syeikh Sanusi yaitu :
وَكَذَا
يَسْتَهِيْلُ عَلَيْهِ تَعَالى أَنْ لايَكُونَ وَحِدًا باَنْ يَكُوْنَ
مُرَكَّبًافي ذَاتِهِ أَوْ صِفَاتِهِ أَوْ يَكُوْنَ مَعَهُ في الْوُجُوْدِ
مُؤَثِّرٌ في فِعْلٍ مِنَ اْلأَفْعَالِ
Artinya : “Dan
seperti itu pula mustahil atas Allah ta'ala bahwasanya Dia tidak Esa
dengan adalah Dia bersusun pada Dzat-Nya atau sifat-Nya atau ada
bersama-Nya pada mewujudkan yang memberi bekas perbuatannya dari yang
selain Allah”.
Dimaksud dengan bersusun adalah dapat dibagi-bagi seperti tubuh kita
ini sebenarnya satu tetapi tersusun atas anggota-anggota atau dapat
diuraikan menjadi bagian-bagian yang sangat kecil. Sedangkan Dzat Allah
adalah tunggal yang tidak dapat dibagi-bagi dan tidak terdiri atas
anggota-anggota seperti wajah, tangan, kaki, jari, betis, mata dan
lainnya sungguh telah terdahulu bahwa Allah ta’ala bersifat
Mukholafatuhu lilhawadits sedangkan itu semua merupakan sifat dari yang
baharu. Adapun yang warid dari Al-Qur'an dan Sunnah yang menyebutkan
bahwa Allah memiliki hal itu maka untuk memahaminya ditempuh oleh para
ulama Ahlu sunnah dengan dua jalan. Jalan pertama yang ditempuh oleh
ulama salaf dengan tidak membicarakan hal itu cukup mengimankan apa
yang disebutkan pada Qur'an dan Sunnah tanpa membahasnya lebih jauh
tentang maksudnya dan mempermasalahkan hal itu digolongkan perbuatan
bid'ah cukuplah hal itu diserahkan pada Allah dan Rasul-Nya. Jalan
kedua yang ditempuh ulama-ulama khalaf adalah dengan mentakwilkannya
pada arti yang pantas dengan menyerahkan hakikatnya pada Allah seperti
firman Allah ta'ala :
وَيَبْقَى وَجْهُ رَبّكَ ذُوالْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ
Artinya : "Dan kekallah wajah yaitu Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan".
Wajah pada ayat ini dimaknai dengan Dzat. Lalu firman-Nya lagi :
وَاصْنَعِ الْفُلْكَ بِأَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا وَلاَتخُـَاطِبْنِيْ في الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا إِنَّهُمْ مُغْرَقُوْنَ
Artinya
: "Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu
Kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang yang zalim
itu; sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan". (Huud : 37)
Mata pada ayat ini ditakwil menjadi pengawasan. Firman-Nya :
إِنَّ الَّذِيْنَ يُبَايِعُوْنَكَ إِنمَّـَا يُبَايِعُوْنَ اللّهَ يَدُ اللّهِ فَوْقَ اَيْدِيْهِمْ
Artinya
: "Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya
mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka
…".
Tangan pada ayat ini dimaknai dengan Qudrat atau kekuasaan. Demikannlah
dengan yang lainnya. Adapun segolongan orang yang mengatakan bahwa
Allah bertangan, berkaki, memiliki wajah dan lainnya tapi mengatakan
bahwa tangan, kaki atau wajah Allah tidak sama dengan makhluk-Nya
sungguh telah tersesat dan tidak mengerti hakikat dari bahasa atau
kata-kata yang mereka ucapkan. Mereka ini digolongkan sebagai golongan
Mujassimah.
7. Qudrat ( قُدْرَةُ ) artinya Kuasa mustahil lemah.
Firman Allah Ta'ala :
اِنَّ اللّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِ يْرٌ
Artinya : “Sesungguhnya Allah Ta'ala atas tiap-tiap sesuatu Maha Kuasa”.
Adapun dalil aqlinya :
اَنَّهُ لَوْكَانَ عَاجِزًا لَمْ يُوْجَدْ شَيْءٌ مِنْ هذِهِ الْمَخْلُوْقَاتِ
Artinya : “Bahwasanya Dia jika lemah, maka tidak akan wujud sesuatu dari sekalian makhluk (alam semesta) ini”.
Qudrat Allah adalah kekuasaan yang mutlak pada segala sesuatu didalam
alam semesta artinya setiap apa yang kita lihat ini merupakan hasil
qudrat Allah Ta'ala. Adapun qudrat yang kita miliki hanyalah nama saja
sedangkan apa yang kita perbuat pada hakikatnya adalah perbuatan Allah
Ta'ala seperti apa telah disebutkan sebelumnya pada Esa dalam perbuatan
Allah.
Seorang mukmin yang beri’tiqad bahwa Allah bersifat qudrat hendaklah
selalu tawadhu’, tidak takabur terhadap apa yang dihasilkan dari
perbuatannya karena apa yang didapatkannya itu walau pada lahirnya
tampak dari dirinya, tetapi sebenarnya dari Allah jadi harus kita
syukuri karena berapa banyak orang yang memiliki keahlian dan ilmu yang
cukup telah berusaha dengan sungguh-sungguh tetapi tidak mendapatkan
hasil. Seorang mukmin juga harus banyak merasa takut pada Allah Ta'ala
karena setiap saat bila Dia menghendaki maka dapat saja ditimpakan-Nya
pada kita apa yang tidak kita inginkan dan mengambil kembali apa yang
telah diberikan-Nya karena kurangnya rasa syukur atau adanya
kesombongan dan rasa ujub dalam diri kita karena Dia kuasa mewujudkan
apa yang diinginkan Allah. Allah berfirman tentang Iblis :
أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِيْنَ
Artinya : “ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir”.
Demikian pula nyata mustahil Allah Ta'ala lemah karena seorang manusia
yang lemah saja untuk mengangkat beban seberat tubuhnya tidak akan
mampu apabila untuk mengatur alam semesta yang demikian luas dan
teratur tidak diterima akal dapat dilakukan bila Allah Ta'ala lemah.
8. Iradat ( اِرَدَ ةٌ ) artinya berkehendak mustahil terpaksa.
Dimaksud dengan iradat artinya bahwa apa yang terjadi semuanya di alam
semesta ini memang sudah merupakan kehendak Allah Ta'ala dan mustahil
ada yang terjadi dialam semesta sesuatu yang tidak dikehendaki-Nya atau
karena Dia terpaksa melakukannya.
Firman Allah Ta'ala :
فَعَّالٌ لِّمَايُرِيْدُ
Artinya : “Melakukan Allah Ta'ala apa-apa yang dikehendaki-Nya”. (Al-Buruj 85:16)
Dalil aqlinya :
اَنَّهُ لَوْكَانَ كَارِهًا لَكَنَ عَاجِزًا وَكَوْنُه عَاجِزًا مُحَالٌ
Artinya : “Bahwasanya jika Dia terpaksa membuat sesuatu atau mentiadakannya maka tentu Dia lemah dan Dia lemah mustahil”.
Seorang mukmin yang beri’tiqad bahwa Allah Ta'ala bersifat Iradat bahwa
ia bersyukur pada Allah Ta'ala atas tiap-tiap nikmat karena nikmat yang
kita terima merupakan anugerah Allah yang kalau tidak karena
kehendak-Nya tidak akan dapat terjadi. Rasa syukur itu wajib kita
haturkan pada-Nya karena bila kita tidak bersyukur berarti kufur yaitu
kufur nikmat yang akan mendatang-kan azab yang pedih seperti firman-Nya
:
وَلَئِنْ كَفَرْتمْ اِنَّا عَذَابِيْ لَشَدِيْدُ
Artinya : “… dan bila kalian kufur (yaitu atas nikmat-Ku) maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”
Kemudian kita wajib sabar atas tiap-tiap bala dunia karena apa yang
datang baik hal baik ataupun yang buruk semuanya dari Allah yaitu apa
yang sudah ditentukan-Nya. Kesabaran akan mendatangkan pahala yang
besar dan merupakan jalan menuju syurga. Firman Allah Ta'ala :
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ
Artinya : “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas”.
Perlu kita ketahui pula perbedaan antara perintah Allah dan iradat
Allah supaya tidak terjadi kesalahan dalam memahami Al-Qur’an, yaitu :
- Ada sesuatu yang diperintahkan Allah dan Dia-pun menghendakinya
seperti iman yang ada pada hati setiap orang beriman, Nabi-nabi dan
Rasul-rasul demikian pula ketaatan para Rasul atas setiap perintah
Allah.
- Ada sesuatu yang diperintahkan Allah tetapi Dia tidak
menghendakinya, seperti iman pada hati Fir’aun, Namrud dan orang yang
kafir. Allah memerintahkan mereka beriman dengan diutusnya Rasul-Nya
pada mereka tetapi telah tersurat pada ketentuan Allah bahwa mereka
tidak beriman maka dakwah para Rasul dengan mu’jizatnya tidak membekas
di hati mereka.
- Ada sesuatu yang tidak diperintahkan Allah tetapi Dia
menghendakinya, seperti perbuatan maksiat diantaranya berzina, mencuri,
membunuh dan lainnya tetapi kita lihat banyak terjadi maksiat disekitar
kita terutama pada masa sekarang. Hal ini karena dalam ketentuan Allah
demikianlah adanya seperti hadits Nabi yang menceritakan fitnah yang
akan terjadi selepas beliau wafat sampai hari kiamat.
- Ada sesuatu yang tidak diperintahkan Allah dan Dia-pun tidak
menghendakinya seperti kafir dan maksiat pada para rasul dan
anbiya’-Nya.
Jadi kalau kita dapat beriman sedangkan kita hanya mendengar kabar
tentang Nabi kita tanpa menyaksikan beliau ataupun mukjizatnya maka hal
itu merupakan karunia yang tidak ternilai yang wajib kita syukuri
dengan berbuat taat. Firman Allah ta’ala :
وَلَوْ
شَآءَ الله مَا اقْتَتَلَ الَّذِيْنَ مِنْ بَعْدِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا
جَآءَتْهُمُ الْبَيِّنَاتِ وَلَـكِنَّ اخْتَلَفُوْا فَمِنْهُمْ مَنْ آمَنَ
وَمِنْهُمْ مَنْ كَفَرَ ﺝ وَلَوْ شَآءَ الله مَا اقْتَتَلُوْا وَلَـكِنَّ
الله يَِفْعَلُ مَا يُرِيْدُ
Artinya : “Dan kalau
Allah menghendaki, niscaya tidaklah berbunuh-bunuhan orang-orang (yang
datang) sesudah rasul-rasul itu, sesudah datang kepada mereka beberapa
macam keterangan, akan tetapi mereka berselisih, maka ada di antara
mereka yang beriman dan ada (pula) di antara mereka yang kafir.
Seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Akan
tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya.
Firman Allah ta'ala :
فَإِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَن يَشَاءُ وَيَهْدِي مَن يَشَاءُ
Artinya
: “… maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan
menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya” (Fathir 35:8)
Firman Allah ta’ala :
وَلاَتَهِنُوْا وَلاَتحْزَنُوْا وَأَنْتُمُ الأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
Artinya
: “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih
hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika
kamu orang-orang yang beriman”.(Ali Imroon 3:139)
9. Ilmu ( عِلْمٌ ) artinya Mengetahui mustahil jahil.
Ilmu Allah adalah mutlak dan yakin yaitu ilmu yang tidak dida-hului
oleh jahil, bukan karena belajar, tanpa diselipi keraguan, tanpa adanya
lupa dan hasil dari coba-coba berbeda dengan ilmu kita dimana
sebelumnya tidak tahu lalu belajar dan terkadang masih diragukan, suka
terlupa dan banyak merupakan kesimpulan setelah melakukan percobaan
yang berulang-ulang. Allah mengetahui yang nyata dan yang ghoib. Semua
itu jelas bagi Allah tanpa adanya kesamaran atau keraguan.
Firman Allah Ta'ala :
وَاللّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ
Artinya : “ … dan Allah Ta'ala atas tiap-tiap sesuatu Maha Mengetahui”. (Al-Baqarah 2:282)
Demikian juga firman Allah :
هُوَاللّهُ الَّذِيْ لاَاِلهَ اِلاَّهُوَ، علِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ ، هُوَ الرَّحمنُ الرَّحِيْمِ
Artinya
: “Dia-lah Allah yang tiada Tuhan kecuali hanya Dia, yang Mengetahui
sekalian yang ghoib dan yang nyata. Dia yang Maha Pemurah lagi Maha
Penyayang”. (Al-Hasyar 59:22)
Adapun dalil aqlinya yaitu :
اَنَّهُ لَوْكَانَ جَاهِلاًلَمْ يَكُنْ مُرِيْدًاوَهُوَ محـَالٌ
Artinya : “Bahwasanya Dia apabila Jahil tentu Dia tidak memiliki kehendak dan hal itu mustahil”.
Hal ini dikarenakan kehendak itu didasarkan dengan adanya ilmu.
Kemudian lagi untuk membuat sesuatu teratur tentunya harus berilmu
sebagaimana kita lihat dalam kehidupan orang yang merencanakan atau
berkehendak untuk membuat sebuah bangunan yang kokoh maka
perencanaannya didasari dengan ilmu yaitu ilmu arsitektur. Untuk
menjadikan alam semesta dengan keteraturan dan ukuran-ukuran yang
tertentu seperti kadar udara yang kita hirup, susunan anatomi tubuh
yang demikian sempurna tidak mungkin yang merencanakannya seorang yang
jahil. Bila kita memandang diri kita sendiri maka akan kita lihat bahwa
ketiga sifat Allah itu pasti wujud yaitu ilmu, iradat dan qudrat. Allah
berfirman :
وَفِي أَنفُسِكُمْ أَفَلاَ تُبْصِرُوْنَ
Artinya : “Pada diri kalian sendiri apakah kalian tidak memper-hatikan”. (Adz-Dzaariyat 51:21)
Seorang mukmin yang beri’tiqad bahwa Allah Ta'ala bersifat Alim
hendaknya sangat takut melakukan maksiat walaupun masih dalam bentuk
keinginan atau niat sekalipun karena Tuhannya sangat mengetahui seluruh
keadaan hatinya dan perbuatannya seperti firman Allah :
إِنَّ اللّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ
Artinya : “Sesungguhnya Allah sangat Mengetahui dengan apa yang ada di dalam hatimu”. (Ali-Imran 3:119)
Demikian pula seperti disebutkan sebelumnya, sebenarnya yang ada
didalam diri kita sebenarnya hanya niat atau keinginan yang mana yang
terlahir dalam perbuatan kita adalah wajud dari keinginan hati kita
yang diketahui Allah lalu dijadikan-Nya apa yang kita perbuat seperti
yang kita inginkan. Jadi bila kita mengaku beriman dan mengakui bahwa
Allah-lah yang Alim hendaknya menjaga hati selalu dimanapun dan
bagaimanapun keadaan kita. Kita harus malu apabila ada keinginan untuk
berbuat maksiat karena Dia mengetahuinya dengan sangat jelas tanpa ada
keraguan sedikitpun karena ilmu Allah sempurna. Demikian juga dalam
beribadah hendaklah kita menjaga keikhlasan hati karena dalam beribadah
Allah tidak hanya melihat zhohir kita tetapi juga hati kita. Firman
Allah ta’ala :
يَآأَيُّهَا
الَّذِيْنَ آمَنُوْ لاَتُبْطِلُوْا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَاْلأَذَى
كَالَّذِى يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَآءَ النَّاسِ وَلاَيُؤْمِنُ بِاللهِ
وَالءيَوْمِ اْلآخِرِ
Artinya : “Hai orang-orang
beriman, janganlah kamu meng-hilangkan (pahala) sedekahmu dengan
menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan sipenerima), seperti orang
yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak
beriman kepada Allah dan hari kemudian”.
Sabda Nabi SAW :
اِنَّ اللّهَ تَعَالَى لاَيَنْظُرُ اِلَى صُوَرِكُمْ وَاَبْشَارِكُمْ وَاِنمَّـَا يَنْظُرُ اِلَى قُلُوْبكُمْ
Artinya : “Sesungguhnya Allah ta'ala tidak memandang kepada rupa kamu dan badan kamu hanyasanya Dia memandang kepada hati kamu”.
Adapun lawan dari ilmu adalah jahil dan apa yang semakna dengannya
yaitu syak (ragu-ragu), waham (dugaan), zhon (kira-kira) demikian pula
tidak ada pada ilmu Allah Ta'ala lupa, lalai, mudah dan sukar karena
didalamnya ada unsur jahil.
10. Hayat ( حَيَاةٌ ) artinya Hidup mustahil mati.
Dimaksud dengan hayat yaitu hidup yang bukan dengan nyawa atau ditandai
dengan nafas berbeda dengan hidup kita yang mempunyai nyawa dan
ditandai dengan adanya nafas yang mana bila nafas terputus maka nyawa
kitapun tercabut lalu mati. Hidup Allah adalah Baqo' yaitu kekal tanpa
diakhiri dengan mati karena bukan dengan nyawa karena setiap yang
bernyawa akan mati.
Firman Allah Ta'ala :
وَتَوَكَّلْ عَلَى الحَيِّ الَّذِيْ لاَ يمُوْتُ
Artinya : “Bertawakkallah engkau pada Tuhan Yang Hidup yang tidak akan mati”.
Adapun dalil aqlinya, yaitu :
اَنَّه لَوْكَانَ مَيّتًالَمْ يَكُنْ قَادِرًاوَلاَمُرِيْدًاوَلاَعَالِمًاوَهُوَمحـَالٌ
Artinya
: “Bahwasanya jika Dia mati maka Dia tidak akan memiliki qudrat, iradat
dan ilmu sedangkan hal Allah tidak memiliki qudrat, iradat dan ilmu
mustahil”.
Hal ini dapat dipastikan karena seperti kita lihat orang yang mati
diperlakukan apa saja oleh yang hidup tidak akan dapat berbuat apa-apa
karena sifat-sifat yang seperti diatas sudah tidak ada padanya.
Demikian pula Allah tidak mungkin mati karena jika Dia mati tentu tidak
akan ada alam ini karena akan hancur.
Seorang mukmin yang beri’tiqad bahwa Allah Ta'ala bersifat hayat
hendaknya banyak bertawakkal atau menyerahkan dirinya kepada Allah
Ta'ala karena hanya pada yang hidup kekal kita dapat menyandarkan diri
kita sedangkan pada yang mungkin mati maka kita tidak dapat menyerahkan
urusan kita karena bila suatu saat ia mati tentu urusan kita akan
terbengkalai sedangkan karena sakit saja dapat membuat urusan tidak
lancar apalagi mati.
Diceritakan bahwa Nabi Sulaiman AS telah memasukkan seekor semut
kedalam sebuah wadah tertutup dan sebutir gandum sebagaimana perkataan
semut bahwa dalam setahun ia dapat menghabiskan sebutur gandum. Setelah
setahun maka Nabi Sulaiman AS membuka wadah dan didapatinya gandum itu
masih bersisa separuh, lalu beliau menghardik semut itu dengan katanya,
“Engkau telah berbohong padaku !” Jawab semut, “Sesungguhnya aku tidak
berbohong hanya saja aku bertawakkal pada Allah sehingga dalam keadaan
bebas aku memakan tanpa rasa khawatir bahwa Tuhanku lalai dalam membagi
rezeki, akan tetapi aku terhadapmu khawatir karena engkau dapat lupa
dan mati, bagaimana bila hal itu terjadi atasmu. Itulah sebabnya tidak
kuhabiskan gandum itu karena ada rasa khawatir dalam diriku”.
Demikianlah semut itu yang menyerahkan urusan rezekinya pada Allah
ta’ala karena Allah telah berfirman :
وَمَا
مِنْ دَآبَّةٍ فِى اْلأَرْضِ إِلاَّ عَلَى اللهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ
مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِى كِتَابٍ مُبِيْنٍ
Artinya
: “Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah
yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu
dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata
(Lauh Mahfuzh)”.
Diceritakan bahwa seorang sahabat dari Ibrahim bin Adham rhm. berencana
untuk pergi musafir karena urusan perdagangannya. Sebelum pergi ia
sudah berpamitan dan meminta maaf pada seluruh kerabat dan tetangganya
sebagaimana lazimnya orang masa itu yang akan pergi musafir. Kemudian
sahabatnya itupun pergi tetapi tidak berapa lama kemudian Ibrahim bin
Adham mendengar bahwa sahabatnya itu telah kembali dan mengurung
dirinya di rumah saja. Iapun pergi mendatangi sahabatnya itu untuk
menanyakan halnya tentang segeranya ia kembali. Ia bertanya, “Hai
sahabatku, kudengar engkau pergi musafir untuk berdagang tetapi
sekarang engkau sudah kembali dengan segera tanpa memberitahu dan
berdiam diri di rumah saja”. Jawab sahabatnya, “Engkau benar, aku telah
pergi tapi segera kembali karena aku telah melihat perkara yang begitu
mengagumkan dan kujadikan pengajaran yang sangat berharga”. Tanya
Ibrahim, “Ceritakan padaku kisahmu”. Kata sahabatnya, “Saat aku dalam
perjalanan, aku berhenti di sebuah Mesjid untuk sholat dan beristirahat
sebentar. Saat aku beristirahat tampak olehku seekor burung kecil yang
sayapnya patah dan tidak dapat terbang. Saat itu aku berpikir bagaimana
cara burung itu mencari makan. Tiba-tiba aku melihat seekor burung yang
lain terbang menghampiri burung itu dengan membawa makanan sehingga
burung yang cacat itupun makan dari bawaan temannya. Akupun berpikir
bahwa seandainya aku bertawakkal saja pada Allah dengan sepenuh hatiku
maka rezekiku tidak perlu aku khawatirkan karena apa yang sudah menjadi
bagianku pasti akan datang padaku baik aku usahakan atau tidak. Untuk
apa lagi aku berusaha melelahkan diri lebih baik aku sibuk dengan
ibadahku saja. Karena itulah maka akhirnya aku pulang dan tidak
kuteruskan niatku untuk pergi bedagang”. Mendengar perkataan sahabatnya
itu Ibrahim bin Adham berkata, “Engkau benar tentang tawakkal, tetapi
engkau salah mengambil pelajaran dari apa yang engkau lihat. Adapun
dirimu seharusnya yang engkau lihat bukanlah burung yang cacat karena
dirimu bukan orang yang cacat. Seharusnya engkau melihat pada burung
yang datang membawakan makanan untuk temannya itu, karena ia bermanfaat
bukan hanya untuk dirinya tetapi juga untuk yang lain. Kalau engkau
berusaha tidak menghilangkan sebutanmu sebagai orang yang tawakkal
selagi hatimu tetap bergantung pada Allah. Kemudian engkau bisa menjadi
jalan untuk rezeki saudaramu dan engkau menjadi mulia karena tangan
diatas lebih baik dari tangan dibawah. Sementara kalau engkau hanya
menunggu rezekimu yang memang pasti akan datang maka engkau bisa
menjadi hina karena menjadi orang dengan tangan dibawah sementara
engkau mempunyai tubuh yang sehat tetapi tidak mau berusaha”. Mendengar
perkataan Ibrahim bin Adham maka sahabatnya berkata, “Engkau benar,
kalau begitu aku segera pergi untuk meneruskan perdaganganku dan
beruntunglah orang yang mempunyai guru dan sahabat sepertimu”.
Kalau ditanyakan bagaimana hidup yang tidak dengan nyawa dapat hidup,
maka katakan bahwa demikianlah adanya seperti juga kita ketahui bahwa
pohon-pohonan hidup, kuman hidup tetapi lihatlah bahwa pohon dapat
hidup dan berkembang tanpa nyawa lalu kuman berkembang-biak dengan
membelah diri dimana setiap belahan hidup. Demikian pula hidup Allah
berbeda dengan hidup kita tidak bisa kita ketahui hakekatnya karena
ilmu kita terbatas. Firman Allah :
وَمَا اُوْتِيْتُمْ مِنَ الْعِلْمِ اِلاَّ قَلِيْلاً
Artinya : “Tidaklah kalian diberi ilmu kecuali sedikit sekali”.
11. Sam’un ( سمْعٌ ) artinya Mendengar mustahil tuli.
Maksudnya adalah Mendengar yang sempurna tidak dengan telinga yang
tidak dapat terhalang, tidak tergantung jarak tertentu dan tidak
tergantung dengan kekuatan suara. Mustahil pula tuli dan apa yang
semakna dengannya.
Firman Allah Ta'ala :
وَاللّهُ سمِيْعٌ عَلِيْمٌ
Artinya : “Allah Ta'ala yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui”.
Seorang mukmin yang beri’tiqad bahwa Allah Ta'ala bersifat Sama’
hendaknya takut untuk berkata-kata yang haram seperti memaki, ghibah,
dusta, janji palsu dan lainnya ataupun yang sia-sia seperti bergurau
bukan dengan isteri, menceritakan film dan yang tidak bermanfaat
walaupun tidak berdosa karena Allah Ta'ala sangat mendengar semua yang
dikatakannya. Hal ini karena Allah Ta'ala memberi kita anggota tubuh
untuk membantu kita dalam mentaati-Nya maka lidah seharusnya digunakan
untuk membaca Al-Qur’an, berzikir dan saling nasehat-menasehati dalam
kebaikan dan takwa. Mensia-siakan nikmat yang diberikan tentu akan
membuat pemberi nikmat murka sebagaimana bila kita memberi seseorang
hadiah lalu orang yang diberi mengabaikan dan membuangnya tentu hal itu
akan menyakiti hati kita. Berbicara yang sia-sia juga termasuk
mensia-siakan umur yang sudah diberikan karena waktu yang tidak
digunakan untuk meraih kebajikan akhirat sungguh akan sangat disesali
oleh setiap orang pada hari dimana kita sangat membutuhkan amal dan
pahala yang banyak yaitu hari kiamat yang disebut juga yaumun nadamah
(hari penyesalan).
Disamping takut seorang mukmin juga seharusnya memiliki rasa malu
karena setiap yang kita ucapkan dicatat dan dibawa kesisi Allah dan
nantinya akan diajukan dalam sidang hari pembalasan. Alangkah malunya
bila dalam catatan itu tertera setiap kata-kata makian yang kita
ucapkan. Beruntunglah orang yang mampu menjaga lidahnya.
Kalau ditanyakan bagaimana pula Allah dapat mendengar tidak dengan
telinga maka katakanlah demikianlah Mendengarnya Allah karena
sesungguhnya makhluk Allah banyak dengan sifat pendengaran dan alat
pendengaran yang berbeda-beda Allah yang menjadikan semua itu tentu
berbeda dengan yang dijadikan-Nya. Wallahu muwafiq.
12. Bashor ( بَصَرٌ ) artinya Melihat mustahil buta.
Maksudnya Melihat yang sempurna yang tidak dengan mata, tidak terhalang
dengan sesuatu, tidak pula tergantung jarak, warna dan lainnya.
Mustahil pada-Nya buta atau apa-apa yang semakna dengannya.
Firman Allah Ta'ala :
وَاللّهُ بَصِيرٌ بمَا تَعْمَلُوْنَ
Artinya : “Allah Ta'ala Maha Melihat tiap-tiap apa yang kamu lakukan”.
Seorang mukmin yang beri’tiqad bahwa Allah Ta'ala bersifat Bashor
hendaknya takut untuk melakukan perbuatan maksiat karena Tuhannya
melihat apa yang dilakukannya walaupun ditempat yang tersembunyi
menurut pandangan orang sekalipun karena Melihat Allah tidak sama
dengan kita yang dapat dihalangi, membutuhkan cahaya ataupun bila jauh
menjadi tidak jelas. Pada Penglihatan Allah semua itu nyata karena
disisi Allah tidak ada istilah jauh ataupun dekat.
Disamping takut seorang mukmin juga seharusnya malu sebagaimana bila
kita akan bermaksiat sementara disamping ada orang tua atau orang yang
kita hormati tentu akan timbul rasa malu apalagi setiap kita dalam
pengawasan Allah dan pengawasan malaikat-Nya dan setiap yang ada
disekeliling kita akan menjadi saksi setiap maksiat yang kita kerjakan
kelak dihari kiamat dihadapan setiap makhluk-Nya.
Diceritakan bahwa ada seorang perampuan pezina yang sangat jahat di
Mekah, ia berkata, “Aku tidak akan senang hingga kujatuhkan fitnah pada
Thawus al-Yamani (yaitu ulama tabi’in yang merupakan seorang laki-laki
yang sangat tampan)”. Beberapa kali perempuan itu menggodanya tetapi
selalu tidak berhasil hingga ia sangat heran. Karena berulangkali
ditolak tetapi perempuan itu tetap merayunya maka berkatalah laki-laki
itu padanya, “Persiapkanlah dirimu untukku pada malam ini. Datanglah
engkau pada waktu sahur maka keinginanmu nanti akan kupenuhi”.
Datanglah perempuan itu pada waktu yang telah ditentukan lalu berjalan
keduanya hingga sampai pada Maqam Ibrahim, berkatalah laki-laki itu,
“Berbaringlah engkau disini dan lepaskanlah pakaianmu!” Kata perempuan
itu, “Subhanallah! Apakah kita tidak dilihat oleh manusia”. Kata
laki-laki itu, “Apakah Allah tidak melihat kita pada setiap tempat ?”
Kata perempuan itu, "Bahwasanya aku memuliakan tempat itu dari
melakukannya disitu”. Katanya, “Wahai perempuan ! Tempat ini lebih
engkau muliakan dari kemuliaan Allah dan kebesaran-Nya. Sesungguhnya
Allah Ta'ala itu lebih utama dan lebih agung untuk engkau takuti”.
Akhirnya perempuan itupun bertaubat dan ditinggalkannya seluruh
kejahatannya.
Kalau ditanyakan bagaimana melihat tidak dengan mata maka katakan
makhluk Allah yang melata dimuka bumi banyak yang hidup dan mencari
rezekinya tanpa menggunakan matanya. Kelelawar mengetahui di malam hari
tanpa melihat dengan sistem pendengarannya, banyak orang yang buta
matanya tetapi bisa mengetahui dengan hati dan tongkatnya.
13. Kalam ( كَلاَمٌ ) artinya berkata-kata mustahil bisu.
Maksudnya Kalam yang sempurna yang tidak berhuruf dan bersuara, tidak terdahulu dan terkemudian, tidak ada I’rob dan mabni.
Firman Allah Ta'ala :
وَكَلَّمَ اللّهُ مُوْسَى تَكْلِيْمًا
Artinya : “Berkata-kata Allah dengan Musa dengan perkataan yang sempurna”.
Demikan pula firman Allah :
اِنِّيْ اصْطَفَيْتُكَ عَلَى النَّاسِ بِرِسَالاَتِيْ وَبِكَلاَمِيْ
Artinya : “Sesungguhnya Aku memilihmu hai Musa diantara selu-ruh manusia dengan risalah-Ku dan Kalam-Ku”.
Dalam masalah ini perlu dipahami beberapa perkara, yaitu :
a. Perkataan manusia merupakan ungkapan dari isi hati atau merupakan
gambaran isi hati. Jadi perkataan yang sebenarnya (hakiki) adalah
perkataan hati. Perkataan hati tidak berhuruf dan tidak pula bersuara
kecuali sesudah diucapkan dengan lidah barulah berhuruf dan bersuara
dan dapat didengar orang lain. Isi hati yang sama dapat diungkapkan
dengan cara yang berbeda bila bahasa lidahnya berbeda seperti perkataan
orang Indonesia dengan perkataan orang Arab. Demikian pula Kalam Allah
tidak berhuruf dan tidak bersuara jadi pahamilah.
b. Perkataan Allah berbeda dengan perkataan makhluk. Perkataan Allah dapat dibedakan atas dua macam, yaitu :
1) Perkataan nafsi atau hakiki, yaitu yang tidak berhuruf dan tidak
bersuara, sebagaimana firman Allah yang disampaikan oleh Malaikat
Jibril kedalam hati para Nabi.
2) Perkataan majazi atau lafdzi, yaitu perkataan Allah yang setelah
diterima oleh para Rasul disampaikan pada sahabatnya, jadi dengan
berhuruf dan bersuara sehingga dapat ditulis.
Demikianlah Kalam Allah ada yang hakiki dan ada yang majazi. Adapun
tulisan mushaf yang kita baca maksudnya sama dengan Kalam Allah yang
diterima oleh Nabi Muhammad SAW yang merupakan sebagian dari Kalam
Qodim Allah Ta'ala. Tulisan Qur’an memang baharu tetapi makna yang
terkandung didalamnya adalah sebagian dari Kalam Qodim Allah.
Perlu dijelaskan bahwa Kalam itu Esa dan tidak berbilang hanya ada
baginya aqsamun I’tibariyyah artinya bagian-bagiannya ditinjau dari
beberapa sisi. Dipandang dari sisi Kalam itu meme-rintahkan disebut
Amrun, ditinjau dari melarang disebut Nahyun, ditinjau dari sisi
menceritakan disebut Khobarun, ditinjau dari sisi Kalam itu
memberitahukan balasan surga untuk orang taat disebut Wa’dun dan
ditinjau dari sisi menakuti orang maksiat dengan neraka disebut Wa’idun
dan lainnya.
Sesungguhnya telah mufakat Ahlu sunnah bahwa Al-Qur’an adalah
Kalamulloh yang Qodim bukan makhluk sebab dikhawa-tirkan memberi
prasangka jika dikatakan Qur’an itu baharu maka jadi baharu pula Kalam
Allah yang ada pada Zat-Nya dan siapa yang berkeyakinan demikian telah
sepakat mereka akan kafirnya.
Dikisahkan : Adapun yang mula-mula mengatakan Al-Qur’an itu makhluk
adalah Ahmad bin Abu Daud lalu dikatakannya hal itu pada Ma’mun
khalifah Baghdad dan dibaguskannya perkataan itu dan dibenarkannya,
lalu diikutnya dan disuruhnya kepada sekalian negeri bawahannya untuk
mengatakan bahwa Al-Qur’an itu makhluk dan tiap-tiap orang yang tidak
mengikut per-kataannya maka dibunuhnya atau dipukulnya atau
dipenjara-kannya. Mengambil dalil mereka akan hal itu dengan firman
Allah ta’ala :
اِنَّا جَعَلْنَا قُرْآنًا عَرَبِيًّا
Artinya : “Dan Kami Jadikan Al-Qur’an dalam bahasa Arab”.
Mengambil dalil mereka bahwa tiap-tiap yang dijadikan oleh Allah ta’ala
bahwa ia itu baharu. Karena itu sebagian ulama mengikut sebab takut dan
sebahagian lagi tidak mengikut. Untuk yang mengikut maka diberinya
berbagai hadiah dan untuk yang tidak mengikut maka disakitinya dengan
berbagai jenis siksaan. Sebagin dari mereka dibunuh dan sebagian lagi
dipenjarakan. Diantara mereka yang tidak mengikut adalah Imam Ahmad bin
Hambal maka iapun hendak dibunuh. Ketika sampai berita itu padanya
diapun berdoa kepada Allah memohon pertolongan maka tidak sampai pagi
hari terdengar teriakan dirumah Ma’mun. Datang khadamnya dan berkata,
“Benar Ahmad Al-Qur’an itu Kalamulloh bukan makhluk sanya telah mati
Amirul Mu’minin”. Digantikan Ma’mun oleh Mu’tashim billah Muhammad
saudara ma’mun dimana telah dipesankan oleh Ma’mun untuk mengatakan
Qur’an itu makhluk. Dipanggillah Imam Ahmad untuk munazhoroh, maka
munazhorohlah Imam Ahmad bin Hambal dengan Ahmad bin Abu Daud maka
kalah Ahmad bin Abu Daud. Dikerasilah Imam Ahmad bin Hambal untuk
mengatakan Qur’an itu makhluk tetapi ia tidak mau maka dipukullah ia
kira-kira lima belas kali pukulan putuslah tali celananya dan turunlah
celananya dari pinggangnya. Lalu Imam Ahmad memandang ke langit dan
tidak sempurna bacaannya melainkan keluar tangan emas mengangkatkan
celananya. Tatkala melihat orang-orang akan yang demikian maka mereka
berkeinginan untuk membunuh Mu’tashim, maka dihentikanlah pukulan itu
dan ditahan ia dipenjara sekitar dua puluh delapan bulan. Matilah
Mu’tashim dan digantikan oleh Watsiq billah Harun anak Mu’tashim,
menyatakan pula dia bahwa Qur’an itu makhluk maka Imam Ahmad
menyembunyikan dirinya. Lalu didatangkan-lah Ahmad bin Nazhar
al-Khuza’i dan disuruh mengatakan Qur’an itu makhluk maka ia berkata
Qur’an itu Kalamulloh. Dikatakan kepadanya, “Halallah darahnya”.
Disuruhlah untuk membunuhnya, lalu ia dibunuh dan kepalanya dipotong
lalu digantungkan diarah matahari terbit kota Baghdad selama beberapa
hari dan diarah matahari terbenam beberapa hari. Didengar oleh
orang-orang bahwa pada malam hari kepala itu membaca Laa ilaaha
illallaah dan surat Yaasiin (dalam satu riwayat membaca :
الم . أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوْا اَنْ يَقُوْلُوْا آمَنَّا وَهُمْ لاَيُفْتَنُوْنَ
maka oleh Harun disuruh menulis surat dan digantungkan pada telinganya dengan tulisan :
بسم
الله الرحمن الرحيم . هذا رأس أحمد بن نضر الخزاعى دعاه عبدالله الامام
هارون الواثق بالله أمير المؤمنين الى القول بخلق القرآن وتفى الشبه فأبى
الاالمعاندة فعجله الله الى النار
Artinya : “Inilah kepala
Ahmad bin Nazhor al-Khuza’i telah memanggilnya Abdullah al-Imam Harun
al-Watsiq billah Amirul mukminin untuk berkata Qur’an itu makhluk untuk
menepikan syubhat tapi ia enggan bahkan ingkar maka Allah menyegerakan
neraka padanya”.
Matilah Watsiq dan digantikan saudaranya Mutawakil ’alalloh Ja’far.
Masuk menemuinya Abdul Aziz bin Yahya kepadanya dan ia berkata, “Adalah
suatu perkara yang sangat mengherankan dalam perkara Watsiq bahwa ia
membunuh Ahmad bin Nadhir al-Khuza’i padahal lidahnya tetap membaca
Qur’an”. Maka akhirnya Mutawakil-pun inshaf dan dicelanya perbuatan
saudaranya dan ia memerintahkan pada sekalian negeri bawahannya untuk
mengatakan bahwa Qur’an itu bukan makhluk. Ia meminta untuk
menghadirkan Imam Ahmad bin Hambal dan ia berkata, “Telah terang dunia
dengan laki-laki ini”. Lalu ia memberi hadiah pakaian yang indah-indah
dan seorang sahaya tetapi oleh Imam Ahmad hal itu tidak diterimanya dan
ia menangis, lalu berkata, “Selamatlah aku dari sekalian mereka pada
seluruh umurku hingga hampir umurku dibala’kan dengan mereka dan dengan
dunia mereka”. Lalu ia meninggalkan pakaian-pakaian itu dan
dikembalikannya. Kata Basyir al-Khofi, “Tiada seorang yang paling kuat
berkata seumpama perkataan Imam Ahmad bin Hambal dalam cobaan ketika
disuruh mengatakan Qur’an itu makhluk, maka pada saat itu diberi ia
maqom para nabi”. Karena itu pulalah maka mengirim utusan Imam Syafi’i
ke Baghdad untuk meminta baju yang dipakai ketika ia dipukul.
Dikirimkanlah baju itu kepadanya lalu diambil oleh Imam Syafi’i dan
dibasuhnya lalu diminumnya airnya. Lalu sisa air itu diletakkannya di
dalam kaca yang bila sakit sahabatnya diberinya sedikit dari padanya
yang bila disapukan pada tubuh maka hilanglah sakitnya. Kata Qiil,
“Dilihat oleh seseorang didalam tidurnya akan Ahmad bin Hambal, lalu ia
berkata, “Apa yang diperbuat Allah untukmu ?” Katanya, “Diampunkan
bagiku kemudian Dia berkata, “Hai Ahmad, dipukul engkau karena-Ku ?”
Kataku, “Benar !” Maka firman Allah, “Ini Muka-Ku, perhatikan olehmu
pada-Nya, sungguh telah Kubolehkan bagimu !”
Demikian lagi, telah melihat oleh Imam Syafi’i akan Nabi saw pada
tidurnya, sabdanya, “Kirimkan surat olehmu pada Abi Abdullah (yakni
Ahmad bin Hambal). Sampaikan salamku kepadanya dan katakan olehmu bahwa
akan dicoba ia dan disuruh mengatakan Qur’an itu makhluk maka jangan ia
perkenankan karena sangat berkatnya serta akan diangkatkan ilmunya oleh
Allah hingga hari kiamat”. Maka ditulis oleh Imam Syafi’i surat itu dan
dimintanya Rabi’ untuk membawanya. Ketika surat itu sampai kepadanya
berkata Rabi’, “Beri olehmu kepadaku hak bisyaroh !” Oleh Imam Ahmad
dilepaskannya bajunya dan diberikannya pada Rabi’.
Seorang mukmin yang beri’tiqad bahwa Allah Ta'ala bersifat kalam
hendaknya banyak berdzikir menyebut nama-Nya mudah-mudahan namanya akan
disebut-sebut Tuhan diantara hamba-Nya. Firman Allah Ta'ala :
فَاذْكُرُوْنِيْ أَذْكُرْكُمْ
Artinya : “Ingatlah Aku niscaya Aku-pun akan mengingatmu”
Sabda Nabi SAW :
ذِكْرُاللّهُ علم الإِ يمَان وَبَرَاءَةٌ مِنَ النِّفَاقِ وَحَصَن مِنَ الشَّيْطَانِ وَحرز مِنَ النِّيرَانِ
Artinya : “Mengingat Allah (Zikrullah) itu tanda iman, kelepasan dari nifaq, benteng dari setan dan pemelihara dari neraka”.
Adapun dalil akli ketiga sifat ini yaitu Mendengar, Melihat dan Berkata-kata adalah :
لَوْلَمْ يَـتَّصِفُ بهَالَزِمَ اَنْ يَـتَّصِفَ باضدَادِهَاوَهِيَ نَقَائِصْ ، وَالنَّقْصٍ عَلَيْهِ تَعَالى محَالٌ
Artinya
: “Apabila Dia tidak bersifat dengan ketiganya berarti Dia bersifat
kekurangan karena bersifat kebalikannya sedang-kan bersifat kekurangan
pada sisi Allah mustahil”.
Allah Ta'ala merupakan Dzat yang sempurna dengan sekalian
sifat-sifatnya yang sempurna pula. Apabila ketiga sifat itu ada pada
Allah hal itu merupakan kekurangan yang berarti Dia akan membutuhkan
pada yang dapat menyempurnakan-Nya. Hal itu adalah mustahil seperti
telah nyata sebelumnya Allah Ta'ala bersifat Qiyamuhu binafsihi.
14. Kaunuhu Qoodiron ( كَوْنُهُ قَادِرٌ ) artinya Keadaan-Nya Yang Kuasa mustahil Keadaan-Nya yang lemah.
Dalilnya sama seperti dalil sifat qudrat. Sifat ini saling berhubungan
dengan sifat Qudrat. Ada sifat Qudrat maka ada pula sifat Qodirun.
Seorang mukmin yang beri’tiqad bahwa Allah Ta'ala bersifat qodirun
hendaknya sangat membanyakkan takut pada Tuhannya yang sangat Kuasa dan
besar pengharapannya padaAllah dengan memberikan nikmat kebaikan.
15. Kaunuhu Muridan ( كَوْنُهُ مُرِيدً ) artinya Keadaan-Nya yang Berkehendak mustahil Keadaan-Nya yang terpaksa.
Dalilnya seperti dalil sifat Iradat.
Seorang mukmin yang beri’tiqad bahwa Allah Ta'ala bersifat Muridun
hendaknya banyak memanjatkan do’a pada Allah Ta'ala dengan seluruh
kebajikan dunia dan kebajikan akhirat sertya menolakkan bala.
16. Kaunuhu Aliman ( كَوْنُهُ عَالِمٌ ) artinya Keadaan-Nya Yang Mengetahui mustahil Keadaan-Nya yang jahil.
Dalilnya seperti dalil sifat Ilmu.
Seorang mukmin yang beri’tiqad bahwa Allah Ta'ala bersifat Alimun
hendaknya selalu minta pertolongan pada Allah Ta'ala di dalam tiap-tiap
keadaan dan minta peliharakan dari keburukan dunia dan akhirat.
17. Kaunuhu Hayyan ( كَوْنُهُ حَيًّ ) artinya Keadaan-Nya Yang Hidup mustahil Keadaan-Nya yang mati.
Dalilnya seperti dalil sifat Hayat.
Seorang mukmin yang beri’tiqad bahwa Allah Ta'ala bersifat Hayat
hendaknya selalu bertawakkal pada Allah Ta'ala pada setiap keadaan.
18. Kaunuhu Sami’an ( كَوْنُهُ سمِـيْعً ) artinya Keadaan-Nya Yang Mendengar mustahil Keadaan-Nya yang tuli.
Dalilnya seperti dalil sifat Sam’un.
Seorang mukmin yang beri’tiqad bahwa Allah Ta'ala bersifat Sami’un
hendaknya selalu memuji Allah Ta'ala, banyak bersyukur dan banyak
berdo’a padaAllah.
19. Kaunuhu Bashiron ( كَوْنُهُ بَصِيْـرً ) artinya Keadaan-Nya Yang Melihat mustahil Keadaan-Nya yang buta.
Dalilnya seperti dalil sifat Bashor.
Seorang mukmin yang beri’tiqad bahwa Allah Ta'ala bersifat Bashirun
hendaknya senantiasa malu pada Allah Ta'ala yang melihatnya melakukan
dosa dan meninggalkan yang wajib.
20. Kaunuhu Mutakalliman ( كَوْنُهُ مُتَـكَلِّمًا) artinya Keadaan-Nya Yang Berkata-kata mustahil Keadaan-Nya Yang bisu.
Dalilnya seperti dalil sifat Kalam.
Seorang mukmin yang beri’tiqad
bahwa Allah Ta'ala bersifat Mutakallimun hendaknya banyak membaca
Al-Qur’an dengan khusyu’ dan hormat atau ta’zhim, bertajwid bukan asal
dibaca.
Bersambung ...yang dimaksud Ta’aluq